Bagi para pencinta kuliner yang mencari pengalaman berbeda, sebuah tempat makan di Kabupaten Lamongan menawarkan sensasi nostalgia sekaligus kelezatan khas Yogyakarta. Pendopo Literasi, atau yang juga dikenal sebagai Sate Klatak Literasi, berlokasi di Desa Sumbersari, Kecamatan Sambeng, Lamongan, siap membawa pengunjung kembali ke masa lalu dengan nuansa pedesaan yang menenangkan.
Begitu menginjakkan kaki di area ini, pengunjung akan disambut dengan bangunan joglo tradisional dan gazebo-gazebo yang menambah kesan adem ayem dan tentrem ala Yogyakarta. Sentuhan kreativitas juga terlihat dari ornamen taman pot bunga berbentuk hewan yang memanfaatkan galon bekas, memberikan nilai edukasi menarik bagi anak-anak.
Tommy Jianyanto, pemilik Sate Klatak Literasi, mengungkapkan bahwa usaha kuliner ini merupakan pengembangan dari Koperasi Tani Ternak (Literasi) yang telah ia jalani. “Dari koperasi tersebut kita kembangkan menjadi usaha kuliner, karena memang kebutuhan kalau ada kunjungan, mengingat kita kan juga punya wisata edufarm,” beber Tommy pada Selasa (3/2/2026).
Sajian utama di Sate Klatak Literasi meliputi sate klatak, tengkleng, dan tongseng. Semua hidangan ini dijamin memiliki tekstur daging yang empuk karena berbahan dasar kambing muda atau cempe. Keunggulan ini didapat karena mereka memiliki peternakan sendiri.
“Karena kita punya ternak sendiri, jadi kita sembelih dari kambing yang kita pelihara yang juga menjadi unit usaha di Edufarm literasi,” tutur Tommy.
Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau. Untuk lauk telur, dibanderol mulai dari Rp 5 ribu, sedangkan tongseng seharga Rp 15 ribu. Sementara itu, sate klatak, gule, tengkleng, rawon, serta beragam olahan kambing dan sapi lainnya tersedia dengan harga Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu.
Selain menu satuan, Sate Klatak Literasi juga menyediakan paket makan yang lebih hemat. “Untuk menu paketan kita mulai dari Rp 75 ribu untuk 2 orang, Rp 150 ribu untuk 4 orang, dan Rp 300 ribu untuk 8 orang,” kata Tommy.
Tommy Jianyanto menceritakan bahwa bisnis kulinernya ini berawal dari keinginan kuat untuk mengembangkan potensi desanya. Sebagai seorang magister pendidikan, ia berhasil mengubah pola pikir warga setempat untuk maju dan berkembang melalui peluang usaha peternakan dan pertanian.
“Awalnya memang jatuh bangun, tapi sekarang berkembang pesat. Karena memang kurikulum pendidikan sekarang juga ada outclass jadi bisa terintegrasi antara unit usaha yang kita miliki,” urainya, menunjukkan bagaimana visi edukasi dan bisnis dapat berjalan beriringan.
