Di tengah tantangan birokrasi dan stigma sosial, seorang alumnus Universitas Airlangga (Unair) di Kabupaten Gresik, Nur Chakim, tampil sebagai motor penggerak ribuan tenaga kesehatan. Pria yang akrab disapa Chakim ini membuktikan bahwa esensi seorang sarjana bukan hanya pada gelar, melainkan pada dampak nyata yang dirasakan masyarakat di sekitarnya.

Chakim, yang merupakan alumnus Fakultas Vokasi Unair, kini mengemban tiga posisi strategis sekaligus: Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Gresik, Kepala Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Gresik, dan Sekretaris 3 Lembaga Kesehatan PCNU Kabupaten Gresik. Sinergi peran ini ia manfaatkan untuk menambal celah layanan kesehatan yang kerap tidak terjangkau oleh sistem yang kaku.

“Indikator keberhasilan seorang alumnus adalah saat kehadirannya memberikan dampak positif yang nyata dan bisa dikembangkan oleh masyarakat,” ungkap Chakim saat berbagi cerita mengenai pengabdiannya di Gresik.

Melawan Stigma HIV/AIDS dengan Edukasi

Salah satu tantangan terberat yang dihadapi Chakim adalah tingginya tembok stigma terhadap pengidap HIV/AIDS. Melalui KPA, ia terjun langsung mengikis persepsi negatif yang masih mengakar kuat di masyarakat. Chakim melihat banyak pasien yang justru “terbunuh” oleh pengucilan sosial sebelum sempat mendapatkan pengobatan yang layak.

“Pemicu saya bertahan di KPA adalah fakta bahwa stigma masyarakat jauh lebih ganas dibanding virusnya sendiri. Padahal, jika kita paham cara penularan dan terapinya, HIV tidak seburuk yang dibayangkan orang awam,” tegas Chakim.

Di bawah kepemimpinannya, KPA Gresik kini mengorkestrasi kolaborasi untuk mengejar target ambisius Pemerintah Kabupaten Gresik, yaitu Zero New Infection pada tahun 2030. Strategi yang diterapkan tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pendampingan psikologis agar pasien tetap memiliki semangat hidup. KPA Gresik gencar melakukan langkah preventif serta memastikan setiap pasien rutin mengonsumsi obat agar kondisi mereka terkendali.

Sinergi Organisasi Profesi dan Religi

Chakim meyakini bahwa organisasi profesi seperti PPNI harus memiliki fungsi sosial yang kuat, bukan sekadar wadah administratif. Ia terus mendorong para perawat untuk aktif dalam aksi kemanusiaan, mulai dari penanganan bencana hingga pengabdian masyarakat di pelosok desa.

Tak berhenti di situ, Chakim juga merambah ranah keagamaan melalui Lembaga Kesehatan PCNU (LKNU) Gresik. Di lembaga ini, ia menjembatani kebutuhan kesehatan warga Nahdliyin dengan berbagai program pemerintah.

“Di LKNU, kami berkoordinasi hingga tingkat kecamatan (MWC). Ini adalah upaya jemput bola agar kebutuhan kesehatan masyarakat bawah benar-benar terpenuhi secara inklusif,” pungkasnya.

sumber gambar: Dokumentasi Pribadi