Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan semangat gotong royong multipihak menjadi kunci utama dalam mempercepat transformasi pendidikan nasional. Sinergi lintas kementerian dan partisipasi aktif masyarakat dinilai krusial untuk mewujudkan pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan berkeadilan bagi seluruh anak bangsa.
Pernyataan tersebut disampaikan Mu’ti dalam sesi Ngobrol Publik bertajuk “Gotong Royong untuk Sekolah dan Madrasah: Kebijakan dan Aspirasi Komunitas” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, pada Sabtu (2/5/2026). Ia menekankan bahwa tantangan pendidikan yang semakin kompleks tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah semata.
“Gotong royong adalah kekuatan utama bangsa Indonesia. Dalam konteks pendidikan, partisipasi masyarakat menjadi faktor penting untuk melengkapi keterbatasan sumber daya yang dimiliki pemerintah,” tegas Mu’ti, seperti dikutip dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Senin (4/5/2026).
Mu’ti menjelaskan, kolaborasi kuat antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan diperlukan untuk memastikan layanan pendidikan yang merata dan berkualitas. Hal ini khususnya dalam mendukung program Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran di seluruh satuan pendidikan.
Revitalisasi dan Digitalisasi Pembelajaran
Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, lanjut Mu’ti, tidak hanya berfokus pada perbaikan kondisi fisik sekolah. Lebih dari itu, program ini bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman sebagai fondasi pembelajaran yang efektif.
“Lingkungan belajar yang baik akan mendorong proses pembelajaran yang lebih menyenangkan dan bermakna. Karena itu, pembangunan infrastruktur fisik harus berjalan seiring dengan penguatan kualitas pembelajaran dan karakter murid,” katanya.
Selain revitalisasi, Mendikdasmen juga menyoroti pentingnya percepatan Digitalisasi Pembelajaran. Pemanfaatan teknologi, seperti interactive flat panel (IFP), memungkinkan materi pembelajaran disampaikan secara lebih interaktif dan mudah dipahami oleh murid.
“Dengan dukungan teknologi, pembelajaran dapat menjadi lebih menarik dan memberikan pemahaman yang lebih mendalam bagi murid. Ini bagian dari upaya kita menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman,” imbuhnya.
Tantangan Pengelolaan Partisipasi Publik
Dalam kesempatan itu, Mu’ti juga menyoroti tantangan pengelolaan partisipasi publik di era keterbukaan informasi. Menurutnya, diperlukan kemampuan untuk memilah antara aspirasi yang konstruktif dengan informasi yang tidak relevan.
“Kita harus mampu membedakan antara voice dan noise. Keterbukaan tetap penting, tetapi harus diiringi dengan ketajaman dalam memahami kebutuhan nyata di lapangan,” pungkasnya.
Pernyataan Mendikdasmen ini diharapkan dapat mendorong seluruh pihak untuk bersinergi demi kemajuan pendidikan nasional yang berkelanjutan.
