Dunia sinema kini tak lagi didominasi oleh studio raksasa dengan kru ribuan orang. Berkat kecanggihan teknologi kecerdasan buatan (AI), proses produksi film mengalami demokratisasi signifikan. Hal ini dibuktikan oleh Deni Adi Santoso, seorang praktisi AI filmmaker dari Rumah Literasi Digital (RLD), yang menunjukkan bagaimana imajinasi dapat diwujudkan menjadi visual sinematik yang memukau hanya dengan bermodalkan laptop.
Menciptakan “Jiwa” Karakter Melalui AI
Langkah fundamental dalam produksi film AI dimulai dari platform seperti ChatGPT. Deni Adi Santoso, yang baru saja menjadi pemateri dalam pelatihan bertajuk “AI Short Content Creator” di Hanaka Social Space pada Selasa (5/5/2026), menekankan pentingnya konsistensi visual. Ia menyarankan penggunaan dokumen teknis seperti “Cara membuat karakter untuk short film.docx” sebagai panduan awal.
Prosesnya melibatkan pengunggahan foto referensi dan penyertaan prompt mendalam kepada AI. Detail manusiawi seperti nama, umur, dan proporsi fisik spesifik wajib disuntikkan. Hasilnya adalah sebuah character sheet profesional yang mencakup:
- Tampilan depan, samping, dan belakang karakter secara utuh (full body).
- Detail wajah close-up untuk menangkap ekspresi dan emosi.
- Latar belakang minimalis abu-abu agar fokus sepenuhnya pada karakter.
Merangkai Adegan demi Adegan dengan Presisi
Setelah karakter berhasil diciptakan, tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi visual dalam setiap adegan. Deni, yang juga pemilik akun Instagram @denipanthom, membagikan alur kerja taktis. Sebagai ilustrasi, ia mengambil contoh adegan di stasiun Commuter Line Jakarta.
“Dengan prompt yang presisi, Anda bisa menciptakan drama: seorang perempuan berbaju biru yang berlari panik mengejar kereta di tengah kepungan penumpang yang lelah pulang kerja,” ungkap Deni saat sesi pelatihan tersebut.
Visualisasi adegan ini diperkuat dengan variasi teknik kamera. Mulai dari drone view yang menangkap skala keramaian, hingga close-up dramatis pada langkah kaki atau tatapan mata yang terpaku pada layar ponsel. AI terbukti mampu menerjemahkan lensa 35mm hingga 88mm dengan akurasi yang mengejutkan, memberikan kedalaman sinematik pada setiap bidikan.
Menghidupkan Gambar Menjadi Kisah Nyata
Gambar statis hanyalah permulaan. Keajaiban sesungguhnya muncul saat instruksi gerak diberikan. Deni menyoroti pentingnya elemen suara alami atau ambient sound tanpa musik untuk menciptakan kesan realisme yang kuat. Ia menggambarkan adegan puncak yang mencekam: karakter utama sedang melakukan panggilan video, berucap lirih dalam bahasa Indonesia, “Sabar ya sayang, Ibu sebentar lagi pulang…”. Namun, di balik kaca gerbong, lampu kereta lain mendekat dengan kecepatan tinggi, mengisyaratkan tabrakan yang tak terhindarkan.
Seluruh rangkaian adegan dramatis ini, menurut Deni, dapat dihasilkan tanpa satu pun kamera fisik menyentuh lokasi kejadian. “Terakhir, tugas Anda adalah menjadi “dirigen” di meja editing aplikasi seperti CapCut. Di sanalah, semua potongan imajinasi AI tersebut dirajut menjadi satu kesatuan cerita yang utuh dan bernyawa,” pungkas Deni, menutup penjelasannya.
