Dunia seringkali terasa penuh dengan konsep yang sulit diraba bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Memahami sejarah atau perubahan zaman, misalnya, bukan perkara mudah jika hanya mengandalkan pembelajaran di dalam kelas.

Menyadari tantangan ini, SD Cikal Lebak Bulus secara konsisten membawa siswa inklusi mereka keluar ruangan. Melalui metode experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman, sekolah ini berupaya menjembatani pemahaman konsep abstrak menjadi realitas yang dapat disentuh.

Membangun Logika dan Adaptasi Melalui Pengalaman Langsung

Langkah ini bukan sekadar agenda wisata sekolah biasa. Bagi siswa dengan hambatan belajar, spektrum autisme (ASD), hingga ADHD, kunjungan lapangan atau field trip menjadi sarana vital. Ini adalah jembatan untuk memahami konsep-konsep abstrak yang selama ini hanya ada di buku teks.

Winda Greatta, Homeroom Pendidikan Inklusi di SD Cikal Lebak Bulus, menjelaskan bahwa pengalaman sensorik sangat menentukan tumbuh kembang logika anak. Ia mencontohkan kunjungan siswa ke Museum Betawi untuk mempelajari lini masa.

“Anak-anak melihat langsung perbandingan cara memasak tradisional hingga modern. Di sana mereka tidak cuma belajar sejarah, tapi melatih logika berpikir dan bagaimana cara manusia beradaptasi dengan perubahan,” ujar Winda, seperti dikutip pada Minggu (15/2/2026).

Sebagai sekolah inklusi, SD Cikal memodifikasi kurikulum agar relevan dengan kebutuhan hidup siswa di masa depan. Fokusnya bergeser dari sekadar menghafal data menjadi kemampuan bertahan hidup (thriving for life).

Membekali ABK untuk Mandiri dan Berdaya

Melalui pengalaman langsung, siswa ABK diasah untuk lebih peka terhadap teknologi dan perubahan di lingkungan sekitar. Winda menilai, interaksi dengan dunia luar secara terkontrol membantu anak-anak ini membangun rasa percaya diri.

Tujuan akhirnya adalah agar mereka mampu mengadvokasi diri sendiri saat sudah terjun ke masyarakat. “Kami ingin melihat anak-anak ini siap menghadapi dunianya setelah lulus. Mereka harus paham bahwa keunikan yang dimiliki bukanlah hambatan, melainkan identitas berharga,” tambah Winda.

Dedikasi para pendidik di SD Cikal Lebak Bulus ini diarahkan agar setiap siswa inklusi tidak hanya mampu bertahan hidup (survive), tetapi benar-benar berkembang (thrive) dengan cara mereka yang istimewa. Dengan membekali mereka lewat keterampilan praktis dan wawasan luas, sekolah berharap siswa ABK bisa berkarya dan diterima seutuhnya di tengah masyarakat.