Pelatih Persik Kediri, Marcos Reina Torres, mengungkapkan perasaan campur aduk usai timnya menelan kekalahan dramatis 3-4 dari Bhayangkara Presisi Lampung FC. Laga lanjutan Super League 2025/2026 tersebut berlangsung di Stadion Brawijaya pada Jumat (20/2/2026) malam.

Pelatih asal Spanyol itu mengaku bangga dengan performa anak asuhnya yang dinilainya tampil berani, agresif, dan mendominasi permainan sepanjang pertandingan. “Saya punya tiga perasaan malam ini. Pertama, saya bangga dengan cara tim memainkan bola, menyerang, membangun serangan dari belakang, menutup ruang, dan berusaha memenangkan pertandingan. Kami tampil lebih baik daripada lawan sepanjang laga,” ujar Marcos.

Namun, di balik kebanggaan tersebut, Marcos Reina menyoroti dua aspek krusial yang menyebabkan Macan Putih gagal meraih poin penuh. Salah satunya adalah kurangnya konsentrasi dalam menjaga situasi yang menguntungkan. “Tapi ada dua hal yang tidak saya sukai. Kami tidak bisa melindungi situasi yang baik. Kami tidak bisa memenangkan pertandingan dengan mudah, padahal sudah sangat dekat. Hari ini, kami seperti memberikan pertandingan ini kepada Bhayangkara,” tegasnya.

Selain performa tim, Marcos juga melontarkan kritik tajam terhadap kepemimpinan wasit. Ia mempertanyakan beberapa keputusan pengadil lapangan yang dinilainya merugikan Persik. “Seseorang harus menjelaskan kepada saya mengapa wasit tidak memberikan kartu kuning kedua kepada Subo Seto. Saya tidak mengerti. Juga tidak ada kartu merah di pertengahan babak pertama, saat kami mencetak gol melalui Kiko. Keputusan seperti ini sangat memengaruhi jalannya pertandingan,” ucapnya.

Menurut Marcos, kualitas kepemimpinan wasit harus menjadi perhatian serius demi kemajuan sepak bola Indonesia. “Jika Indonesia ingin berkembang, hal-hal seperti ini tidak boleh terjadi. Ada momen yang seharusnya menjadi kartu merah, dan itu akan mengubah pertandingan. Pada saat itu, kami bisa menang 100 persen,” katanya.

Meski demikian, Marcos menegaskan bahwa timnya tetap harus berbenah, terutama di lini pertahanan. Ia menilai gol-gol Bhayangkara banyak terjadi akibat kelengahan di lini belakang dan situasi bola mati. “Kami harus bertahan lebih baik, terutama saat set-pieces dan di dalam kotak penalti. Ini sangat penting. Masalahnya bukan di satu pemain, tapi seluruh tim,” jelasnya.

Ia juga menepis anggapan bahwa absennya Imanol menjadi penyebab kekalahan. Marcos menilai Adi, yang mengisi posisi tersebut, telah tampil baik. “Imanol adalah pemain penting, tapi hari ini Adi menjalankan tugasnya dengan sangat bagus. Masalahnya bukan di posisi gelandang, tapi detail kecil dalam bertahan yang harus kami perbaiki,” pungkasnya.