Hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Tasikmalaya sejak Senin (9/2) malam memicu bencana tanah longsor. Insiden ini melumpuhkan akses jalan alternatif penghubung Tasikmalaya menuju Kabupaten Pangandaran, tepatnya di Dusun Awiluar, Desa Sirnajaya hingga Desa Citalahab, Kecamatan Karangjaya.

Sebuah tebing setinggi 15 meter dilaporkan ambrol dan menutup total badan jalan di enam titik berbeda. Kondisi terparah ditandai dengan putusnya dan amblasnya permukaan jalan, membuat jalur tersebut tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya, Cahyono, mengonfirmasi bahwa tim gabungan telah diterjunkan ke lokasi. Meskipun tidak ada korban jiwa, medan yang berat dan kontur tanah yang masih labil menjadi tantangan utama dalam penanganan bencana ini.

“Kami bersama tim gabungan BPBD, TNI, Polres Tasikmalaya Kota, Brimob Polda Jabar, PUPR, relawan, warga setempat menutup jalan penghubung Tasikmalaya ke Pangandaran. Karena, adanya 6 titik tanah longsor termasuk paling besarnya sebuah tebing setinggi 15 meter menutup seluruh badan jalan, kontur tanah labil membuat jalan putus dan amblas,” jelas Cahyono pada Selasa (10/2).

Cahyono menambahkan, evakuasi material longsor sempat tertunda pada malam hari karena faktor keamanan, mengingat hujan yang masih turun dan risiko longsor susulan. Proses pembersihan mulai diintensifkan pada Selasa (10/2) dengan pengerahan alat berat, seperti ekskavator, untuk mempercepat pembukaan akses jalan.

“Jalan alternatif penghubung Kabupaten Tasikmalaya menuju Pangandaran tidak bisa dilalui mobil, motor dan memang di Dusun Awiluar, Desa Sirnajaya adanya jalan putus dan amblas menghabiskan seluruh badan jalan hingga berbahaya. Evakuasi tanah longsor akan dilakukan tim gabungan menggunakan alat manual dibantu ekskavator karena panjang tanah longsor 10 meter dan tebal tanah 2,5 meter,” lanjutnya.

Senada dengan pihak BPBD, Camat Karangjaya, Atang Sumardi, menjelaskan bahwa sebaran titik longsor secara signifikan mengganggu mobilitas warga. Titik longsor utama memiliki ketebalan material tanah mencapai 2,5 meter dengan panjang sekitar 10 meter, tepatnya di area RT 018 RW 006 Dusun Awiluar.

“Tanah longsor yang menutup badan jalan penghubung antar Kabupaten Tasikmalaya menuju Pangandaran harus menggunakan ekskavator, karena tanah longsor salah satunya paling besar hanya satu tapi lainnya tersebar di 6 titik lokasi termasuk putus dan amblasnya akses alan. Bencana tanah longsor, membuat masyarakat terganggu dan untuk motor, mobil tidak bisa melewati karena lokasi bencana berbahaya,” pungkas Atang.

Hingga saat ini, petugas masih bersiaga di lokasi kejadian. Masyarakat diimbau untuk menggunakan jalur utama dan menghindari area terdampak hingga proses evakuasi dan perbaikan jalan dinyatakan selesai oleh pihak berwenang.