Era peperangan modern telah bergeser dari medan tempur fisik menuju arena yang lebih senyap namun mematikan: ruang digital. Masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda, kini menghadapi ancaman hybrid warfare atau peperangan hibrida yang menyerang tanpa suara. Ancaman ini tidak lagi mengandalkan kekuatan militer, melainkan melalui serangan psikologis, penyebaran disinformasi, hingga perusakan moral.
Letda Laut (KH) Abdul Aziz, seorang perwira rohani di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), menyoroti bahwa Generasi Z (Gen Z) merupakan target utama dalam skema peperangan tak kasat mata ini. Menurutnya, musuh saat ini menyusup melalui layar ponsel yang setiap hari digenggam oleh anak muda.
Ancaman Disinformasi dan Perusakan Mental
Abdul Aziz menjelaskan bahwa peperangan hibrida memiliki banyak komponen. “Peperangan hibrida memiliki banyak komponen, mulai dari tersebarnya berita bohong (hoaks) hingga upaya merusak mental dan psikologi,” ujar Abdul Aziz dalam bincang santai dengan Eric Ireng di laman Instagram Masjid Salahuddin.
Perusakan mental ini, lanjut Aziz, sering kali tidak disadari oleh para korbannya. Ia menunjuk fenomena seperti kecanduan permainan daring, judi daring (slot), hingga paparan konten pornografi sebagai instrumen yang sengaja digunakan. Tujuannya adalah untuk membuat anak muda menjadi apatis terhadap lingkungan sekitar dan nilai-nilai luhur.
Dampak nyata dari serangan ini adalah pergeseran nilai hidup di tengah masyarakat. Munculnya budaya hedonisme yang dipamerkan secara masif di media sosial memicu ketidakpuasan dalam keluarga dan berkontribusi pada peningkatan angka perceraian.
“Laki-laki dirusak dengan penyimpangan seksual lewat video porno, sementara perempuan dirusak dengan pengaruh gaya hidup mewah (hedonisme). Banyak konten sengaja didesain untuk pamer dan merusak mental bangsa kita,” tambahnya.
Keseimbangan Fisik dan Spiritual Prajurit
Sebagai perwira dengan latar belakang pesantren, Aziz menepis anggapan bahwa kehidupan militer akan menjauhkan seseorang dari nilai-nilai agama. Di lingkungan TNI AL, terdapat korps khusus yang bertugas melakukan pembinaan mental (Bintal) bagi para prajurit.
Bagi Aziz, seorang prajurit yang tangguh harus memiliki keseimbangan antara kekuatan fisik dan spiritual. Prajurit yang hanya kuat secara fisik namun rapuh mentalnya cenderung rentan terhadap penyalahgunaan wewenang dan korupsi. Sebaliknya, rasa takut dan cinta kepada Tuhan justru menjadi motor penggerak profesionalisme dan kejujuran dalam menjalankan tugas.
Tiga Kiat Menjaga Stabilitas Mental di Era Digital
Untuk menghadapi gempuran ancaman non-fisik ini, Letda Abdul Aziz membagikan tiga langkah strategis guna menjaga stabilitas mental dan iman bagi masyarakat luas:
- Seleksi Lingkaran Pertemanan. Karakter seseorang sangat dipengaruhi oleh teman dekatnya. Pilihlah lingkungan pertemanan yang saling mengingatkan dalam kebaikan dan mendukung pertumbuhan positif.
- Terus Belajar. Menghadiri majelis ilmu atau kajian agama berfungsi sebagai cara mengisi ulang daya (recharge) iman agar tetap stabil dan tidak mudah terombang-ambing oleh pengaruh negatif.
- Kekuatan Doa. Mengingat hati manusia mudah berbolak-balik, memohon keteguhan prinsip dan perlindungan kepada Tuhan menjadi kunci terakhir yang fundamental.
Kehadiran sosok seperti Letda Abdul Aziz di jajaran TNI AL membuktikan bahwa menjaga kedaulatan negara saat ini juga berarti menjaga keutuhan mental dan spiritual warganya dari serangan yang tak terlihat, demi masa depan bangsa yang lebih kuat.
