Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sulawesi Tengah, mengimbau agar penggunaan pengeras suara masjid untuk membangunkan sahur selama Ramadhan 1447 Hijriah/2026 dilakukan secara bijaksana dan arif. Langkah ini ditekankan untuk mengedepankan toleransi serta menjaga kerukunan antarumat beragama di tengah masyarakat.

Ketua MUI Kota Palu, Prof. Zainal Abidin, pada Kamis (23/2/2026) di Palu, menyatakan bahwa imbauan ini merupakan upaya positif dalam memelihara kedamaian di tengah keberagaman. Menurutnya, semangat di balik imbauan tersebut adalah merawat kehidupan masyarakat yang majemuk, dengan berbagai latar belakang agama, aliran, dan pemahaman keagamaan.

Menjaga Kerukunan dan Kedamaian

Prof. Zainal Abidin menegaskan bahwa imbauan terkait pengeras suara, khususnya di bulan Ramadhan, adalah bagian dari upaya menjaga kehidupan yang rukun dan damai. “Saya kira imbauan MUI pusat terkait pengeras suara, khususnya di bulan Ramadan, itu sebenarnya positif. Ini bagian dari upaya menjaga kehidupan yang rukun dan damai di antara sesama warga negara,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kebiasaan penggunaan pengeras suara dapat dilanjutkan selama tidak menimbulkan persoalan di tengah masyarakat. Namun, apabila ada kelompok masyarakat yang merasa terganggu atau berada dalam kondisi tertentu, seperti sakit, hal tersebut patut menjadi bahan pertimbangan bersama.

Menurut Prof. Zainal Abidin, keberhasilan syiar Islam tidak semata-mata diukur dari kerasnya suara yang dipancarkan dari masjid. Sebaliknya, kesuksesan dakwah ditentukan oleh cara penyampaian yang santun dan bijaksana. “Menurut saya kejayaan dan kesuksesan Islam itu tergantung pada kelembutan dan kesantunan dalam menyampaikan pesan-pesan agama,” ucap Zainal, yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah.

Islam Rahmatan Lil Alamin

Oleh karena itu, MUI Palu mendorong agar setiap dakwah dapat menghadirkan rasa nyaman dan menyenangkan bagi semua pihak. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam sebagai Rahmatan lil alamin, yang membawa kasih sayang bagi seluruh alam semesta.

Terlebih di bulan Ramadhan, ibadah puasa seharusnya berdampak pada peningkatan akhlak dan terciptanya harmoni sosial. Orang yang berpuasa sudah semestinya menunjukkan adab dan budi pekerti yang lebih baik, baik dalam hubungan dengan Tuhan maupun sesama manusia.

“Hubungan kita dengan Tuhan baik begitu pun sesama manusia juga harus baik. Agama mengantar kita pada kemaslahatan dan kebahagiaan bersama,” kata Prof. Zainal Abidin.