Dunia modern saat ini diwarnai banjir informasi yang masif, namun ironisnya, manusia justru menghadapi krisis ketenangan yang akut. Kehidupan yang terus berputar di tengah riuhnya media sosial dan tuntutan yang tak berkesudahan seringkali membuat batin terasa asing dan diliputi kesepian.
Fenomena ini menjadi refleksi mendalam bagi Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Jawa Timur, Ulul Albab, menjelang bulan suci Ramadan 2026. Menurutnya, Ramadan bukan sekadar pergantian kalender ibadah tahunan, melainkan sebuah undangan bagi setiap individu untuk membenahi kondisi hati yang mulai rapuh.
Alquran sebagai Penawar Kegelisahan Modern
Kegelisahan yang kerap melanda manusia modern, kata Ulul Albab, biasanya berakar dari ketergantungan pada hal-hal yang bersifat semu, seperti validasi sosial dan pencapaian materi. Ia menekankan pentingnya kembali kepada sumber ketenangan sejati.
“Hanya dengan mengingat Allah, hati bisa benar-benar tenang. Ini bukan sekadar kutipan ayat, tapi solusi nyata saat semua sandaran duniawi kita goyah,” ujar Ulul Albab, merujuk pada pesan fundamental dalam Alquran.
Ibadah puasa, lanjutnya, semestinya dipandang sebagai latihan menyederhanakan hidup. Dengan mengurangi asupan dan keinginan fisik yang berlebihan, seseorang secara otomatis memberikan ruang bagi batinnya untuk kembali peka dan mulai “berbicara”. Dalam konteks inilah, Alquran hadir sebagai obat atau penawar bagi mereka yang merasa lelah secara mental.
Mendengarkan Alquran dengan Hati
Ulul Albab mengingatkan bahwa membaca kitab suci tidak akan memberikan dampak signifikan jika hanya berhenti di tenggorokan tanpa melibatkan kehadiran batin sepenuhnya. Ia menekankan pentingnya interaksi yang mendalam dengan firman Tuhan.
“Alquran harus didengarkan seolah Tuhan sedang berbicara langsung kepada kita, bukan sekadar dibaca sebagai rutinitas,” tambahnya, menggarisbawahi esensi tadarus yang sesungguhnya.
Lebih jauh lagi, bulan Ramadan berfungsi sebagai fase penyembuhan terhadap berbagai penyakit mental yang sering disembunyikan, seperti kecemasan, rasa gagal, hingga iri hati. Ketenangan yang ditawarkan bukanlah bentuk pengalihan dari realitas, melainkan kekuatan untuk tetap tegak berdiri meski keadaan sekitar sedang tidak berpihak.
Indikator Keberhasilan Ramadan
Indikator keberhasilan seseorang dalam menjalani Ramadan tahun ini, menurut Ulul Albab, dapat dilihat dari perubahan sikapnya. Jika hati terasa lebih lapang, pikiran semakin jernih, dan emosi menjadi lebih terkendali, itu merupakan tanda bahwa nilai-nilai Ramadan telah menyentuh dasar jiwa.
Menutup refleksinya, Ulul Albab mengajak umat muslim untuk memperlambat langkah sejenak dan melakukan introspeksi.
“Mari tanyakan pada diri sendiri, apakah Alquran sudah menjadi tempat pulang bagi jiwa kita, atau hanya sekadar hiasan dalam jadwal harian?” pungkasnya, memberikan sebuah pertanyaan renungan yang mendalam.
