Pemerintah Provinsi Bali mengambil langkah antisipatif untuk memastikan dua hari besar keagamaan, Hari Raya Nyepi dan Hari Raya Idul Fitri, yang waktunya berdekatan tahun ini dapat berlangsung damai dan penuh penghormatan. Melalui koordinasi lintas majelis agama, pemerintah daerah ingin memastikan masyarakat tetap merasakan suasana khidmat sekaligus menjaga harmoni kerukunan yang selama ini menjadi kekuatan Bali.

Gubernur Bali Wayan Koster memimpin rapat koordinasi bersama majelis agama se-Bali guna membahas pelaksanaan Hari Raya Nyepi yang berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri. Rapat yang diselenggarakan oleh Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Provinsi Bali melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) ini dihadiri perwakilan majelis agama dan unsur terkait.

Usai rapat, Gubernur Koster menegaskan bahwa pembahasan utama dalam pertemuan tersebut adalah bagaimana pelaksanaan Nyepi dan Idul Fitri dapat berlangsung khidmat, aman, serta tetap menjaga kenyamanan masyarakat. “Bagaimana agar pelaksanaan Nyepi dan Idul Fitri berjalan dengan khidmat, nyaman, aman dan kondusif. Semua majelis dan umat bersepakat seperti itu,” ujar Wayan Koster.

Ia menegaskan seluruh pihak sepakat menjaga toleransi serta keharmonisan antarumat beragama di Bali. “Kesepakatannya supaya semuanya berjalan dengan baik, saling menghormati satu sama lain serta menjaga toleransi, kerukunan dan keharmonisan antarumat,” tegasnya.

Terkait kepastian tanggal Hari Raya Idul Fitri, Koster mengatakan pemerintah daerah masih menunggu keputusan resmi pemerintah pusat melalui sidang isbat. “Keputusan resminya kan nanti melalui sidang isbat. Jadi kita tunggu saja itu, jangan ditanya dulu karena belum ada keputusan,” ungkapnya. Ia juga memastikan seruan bersama terkait pelaksanaan Nyepi dan Takbiran yang sebelumnya telah disepakati tetap berlaku dan tidak mengalami perubahan.

Dalam rapat tersebut, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Bali, Abdul Aziz, menyampaikan pandangan menyejukkan. Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu memperdebatkan beredarnya isu terkait irisan Hari Raya Nyepi dengan Idul Fitri. Menurutnya, situasi seperti ini bukanlah hal baru bagi masyarakat Bali dan selama ini selalu dapat dijalani dengan baik dalam suasana saling menghormati antar umat beragama.

Abdul Aziz menilai keharmonisan yang telah terbangun di Bali justru harus terus dijaga, terutama di tengah maraknya perbincangan di media sosial yang kerap memperbesar persoalan. Ia juga mengajak umat Islam untuk bersikap bijak dan menyesuaikan pelaksanaan ibadah dengan kondisi yang ada. Misalnya, dalam pelaksanaan tarawih maupun takbiran, masyarakat dapat melaksanakannya secara sederhana dan terbatas, bahkan bisa dilakukan di rumah bagi yang tempat tinggalnya jauh dari masjid.

Sikap proaktif dari para tokoh umat dinilai penting agar masyarakat tetap tenang dan tidak menimbulkan hal-hal yang dapat mengganggu keharmonisan. Abdul Aziz meyakini masyarakat Bali sudah memiliki kedewasaan dalam menjaga toleransi, sehingga pelaksanaan Hari Raya Nyepi maupun Idul Fitri dapat berlangsung aman, damai, dan tetap menghormati satu sama lain.