Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, mengungkapkan bahwa konsumsi minyak dunia telah menunjukkan tren penurunan di tengah krisis yang melanda Timur Tengah. Birol memperingatkan bahwa situasi pasar minyak global dapat memburuk secara signifikan jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.
Dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Chatham House pada Kamis, Birol menyatakan, “Kami melihat permintaan minyak global sudah mulai menurun. Jika harga melonjak lebih tinggi lagi, penurunan ini akan semakin terlihat jelas.” Pernyataan ini menyoroti kerentanan pasar terhadap gejolak harga.
Birol menambahkan bahwa pasar minyak global berpotensi memasuki “Zona Merah” pada musim panas mendatang. “Masalahnya, pada akhir Juni hingga awal Juli, musim liburan dimulai. Apa artinya? Biasanya, permintaan dan konsumsi minyak akan melonjak. Akibatnya, stok minyak menipis, sementara tidak ada pasokan minyak baru yang keluar dari Timur Tengah… Situasi ini bisa menjadi sulit dan kita mungkin akan memasuki Zona Merah,” jelasnya, mengacu pada kendala transportasi dari Teluk Persia.
Menurut Birol, krisis energi saat ini jauh lebih besar dibandingkan gabungan seluruh krisis energi yang pernah terjadi sebelumnya. Pasar telah kehilangan pasokan sekitar 14 juta barel minyak per hari. Angka ini lebih tinggi dibandingkan “guncangan minyak” pada tahun 1970-an yang hanya mencapai 10 juta barel. Selain itu, hilangnya pasokan gas telah melampaui 130 miliar meter kubik.
Pasar awalnya memasuki krisis ini dengan kondisi surplus minyak dan cadangan yang tinggi, yang sempat meredam dampak guncangan. Namun, cadangan tersebut kini perlahan menipis. Birol menyebutkan bahwa negara-negara anggota IEA telah melepaskan cadangan darurat mereka ke pasar, dan beberapa negara juga telah mengurangi konsumsi.
Meski demikian, seluruh langkah tersebut dinilai belum cukup untuk mengatasi krisis. “Satu-satunya solusi paling penting untuk masalah ini adalah pembukaan Selat Hormuz secara penuh dan tanpa syarat,” tegas Birol.
Eskalasi Konflik dan Blokade Selat Hormuz
Krisis di Timur Tengah semakin memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran pada 28 Februari, yang menyebabkan kerusakan dan jatuhnya korban sipil. Meskipun Washington dan Teheran sempat mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu pada 7 April, perundingan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.
Presiden Trump kemudian memperpanjang penghentian permusuhan guna memberikan waktu bagi Iran untuk menyusun “proposal terpadu.” Namun, eskalasi di sekitar Iran ini telah memicu blokade de facto di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur utama pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dari Teluk Persia ke pasar global. Blokade ini berdampak langsung pada ekspor dan produksi minyak, menyebabkan sebagian besar negara di dunia kini menghadapi kenaikan harga bahan bakar dan produk-produk industri.
