Musim pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) yang seharusnya membawa kebahagiaan justru dimanfaatkan oleh para pelaku penipuan digital. Data terbaru menunjukkan tren serangan siber meningkat tajam, selaras dengan lonjakan transaksi keuangan masyarakat menjelang Lebaran.

Menyikapi situasi ini, penyedia solusi identitas digital VIDA meluncurkan kampanye Public Service Announcement (PSA) bertajuk “Jangan Asal Klik”. Langkah ini bertujuan membentengi masyarakat dari jeratan scam yang semakin canggih dan terorganisir.

Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Teguh Afriyadi, mengungkapkan fakta mengejutkan terkait keamanan ruang siber di Indonesia. Ia menyebut, rata-rata terdapat 1.700 laporan penipuan masuk setiap harinya.

“Polanya terus berulang dan sangat bergantung pada momentum, seperti menjelang Lebaran, Natal, atau libur sekolah. Masalahnya, banyak warga yang terlalu cepat percaya tanpa memeriksa kembali kebenaran pesan yang mereka terima,” ujar Teguh.

Laporan whitepaper VIDA 2026 SEA Digital Identity Fraud Outlook juga mengungkap fenomena payday pulse, yakni lonjakan risiko penipuan yang rutin terjadi setiap tanggal 25 hingga 28, mengikuti siklus gajian masyarakat. Saat dana cair, para pelaku menyusupkan modus yang terlihat sangat meyakinkan di tengah hiruk-pikuk transaksi digital.

Chief Operating Officer VIDA, Victor Indajang, menegaskan bahwa ekosistem penipuan saat ini bukan lagi sekadar aksi individu iseng, melainkan sudah berevolusi menjadi industri yang sangat terorganisir.

“Garda terdepan perlindungan tetap ada pada kesadaran individu. Jangan terburu-buru merespons pesan atau dokumen. Gunakan rumus sederhana: berhenti sejenak, cerna informasinya, verifikasi, baru bertindak,” kata Victor.

Ia mengingatkan, di masa pencairan THR, satu klik pada tautan palsu bisa menyebabkan pengambilalihan akun atau pencurian data hanya dalam hitungan detik.

Berdasarkan data CekRekening.id periode 2017 hingga Oktober 2025, aplikasi pesan singkat menjadi jalur paling rawan dengan total 396.691 aduan. Sementara itu, media sosial membuntuti di posisi kedua dengan 281.050 laporan. Pelaku sengaja memanfaatkan kanal komunikasi pribadi agar pesan yang bersifat “mendesak” atau “resmi” lebih mudah dipercaya korban.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, kerugian masyarakat akibat praktik penipuan ini menembus angka Rp9,1 triliun sepanjang akhir 2024 hingga 2025.

Tips Menghindari Penipuan Digital

Menghadapi serangan yang masif, masyarakat diimbau untuk menjalankan kebiasaan digital yang sehat, antara lain:

  • Abaikan tautan dari nomor tak dikenal yang memicu kepanikan.
  • Rahasiakan OTP, PIN, atau kode verifikasi dari siapa pun.
  • Hati-hati terhadap kiriman file format .APK yang meminta instalasi aplikasi.
  • Selalu telepon balik untuk verifikasi jika ada permintaan transfer uang dari kerabat.

Dari sisi teknis, VIDA kini mendorong penggunaan pengamanan berlapis. Mengingat kata sandi (password) dianggap sudah usang, penggunaan biometrik seperti FaceToken dan PhoneToken menjadi solusi tambahan untuk memastikan bahwa yang mengakses akun benar-benar pemilik sah, bukan penyusup.