Ketua Utama Alkhairaat Sayyid Alwi bin Saggaf Aljufri menegaskan bahwa ibadah puasa di bulan Ramadan memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan amalan lainnya. Ia menyebut puasa sebagai ibadah yang bersifat rahasia antara seorang hamba dengan Allah Subhanahu wa ta’ala.
Pernyataan tersebut disampaikan Sayyid Alwi dalam tausyiah buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah di Palu pada Jumat (6/3/2026). Menurutnya, karakteristik puasa yang tidak memiliki penampakan fisik menjadikannya unik.
Puasa: Ibadah Rahasia yang Tak Terlihat
“Kalau orang shalat kita bisa melihat gerakannya. Orang bersedekah juga terlihat. Tapi puasa tidak memiliki penampakan. Inilah yang menjadikan puasa sebagai ibadah sir, rahasia antara hamba dan Allah,” jelas Sayyid Alwi.
Ia melanjutkan, meskipun seluruh ibadah ditujukan kepada Allah SWT, puasa memiliki kekhasan karena tidak dapat dilihat secara nyata oleh orang lain, berbeda dengan shalat, sedekah, zikir, atau haji.
Ganjaran Tanpa Batas dan Pembentuk Karakter
Keistimewaan puasa juga merujuk pada hadis kudsi dari Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan, “Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” Hadis ini, kata Sayyid Alwi, menunjukkan bahwa pahala puasa diberikan tanpa batas, berbeda dengan amal lain yang dilipatgandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali.
Selain itu, Sayyid Alwi menekankan bahwa puasa berperan penting dalam membentuk karakter manusia. Ibadah ini melatih umat Islam untuk disiplin waktu, baik saat sahur maupun berbuka.
Puasa juga menjadi pendidikan kejujuran. “Di sinilah nilai kejujuran ditanamkan. Ketika seseorang sendirian dia bisa saja membatalkan puasanya, tetapi karena takut dan cinta kepada Allah, dia tetap menjaganya,” ujarnya.
Lebih lanjut, puasa melatih kepekaan sosial terhadap sesama, khususnya fakir dan miskin. Rasa lapar yang dialami saat berpuasa menjadi pengingat untuk memahami kondisi mereka yang kekurangan, sehingga menumbuhkan rasa berbagi.
Harapan Setelah Ramadan
Sayyid Alwi berharap nilai-nilai yang diperoleh selama Ramadan, seperti kejujuran, kedisiplinan, dan kepedulian sosial, tidak hanya diamalkan selama bulan suci saja. Ia berharap nilai-nilai tersebut tetap menjadi bagian dari kepribadian umat Islam setelah Ramadan berakhir.
“Semoga Allah SWT mencatat puasa kita sebagai puasa yang diterima dan menjadikan nilai-nilai Ramadan tetap terjaga dalam kehidupan kita setelah Ramadan berlalu,” pungkasnya.
