Kehadiran jaringan gas kota (jargas) di Tarakan, Kalimantan Utara, telah mengubah signifikan pola konsumsi energi rumah tangga. Terlebih menjelang periode puncak kebutuhan memasak di bulan Ramadan dan Idulfitri 2026, warga setempat kini merasa lebih tenang karena tidak lagi bergantung pada ketersediaan stok tabung LPG di pangkalan.

Gas bumi yang mengalir langsung ke dapur warga terbukti memberikan kepastian pasokan sekaligus menekan pengeluaran bulanan secara signifikan. Sabira, seorang ibu rumah tangga di Kelurahan Karang Rejo, Tarakan, menceritakan pengalamannya beralih dari tabung melon ke jargas.

“Aliran gasnya tersedia penuh sepanjang hari. Jadi tidak perlu takut api tiba-tiba mati saat sedang menyiapkan hidangan, apalagi di momen krusial seperti Ramadan ini,” ungkap Sabira, menyoroti kenyamanan utama yang dirasakannya.

Dari sisi ekonomi, penggunaan gas pipa ini memangkas biaya hidup cukup drastis. Sebelum beralih, Sabira rata-rata menghabiskan empat tabung LPG 3 kilogram setiap bulan. Kini, tagihan jargas miliknya rata-rata hanya menyentuh angka Rp60.000 per bulan.

“Jauh lebih ekonomis. Sebagai ibu rumah tangga, penghematan ini sangat terasa manfaatnya untuk keperluan lain,” imbuhnya, menjelaskan dampak positif pada pengelolaan keuangan rumah tangganya.

BPH Migas dan PGN Pastikan Pasokan Aman

Merespons tren positif ini, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) memastikan seluruh lini distribusi energi di Tarakan berada dalam level aman. Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, mengonfirmasi bahwa baik BBM, LPG, maupun jargas tidak mengalami kendala suplai hingga hari raya mendatang.

“Kami memastikan penyaluran energi berjalan tanpa hambatan agar masyarakat tidak kesulitan mendapatkan akses bahan bakar,” jelas Wahyudi Anas.

Senada dengan hal tersebut, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) selaku operator jargas terus memantau keandalan infrastruktur di lapangan. General Manager Sales and Operation Region (SOR) III PGN, Hedi Hedianto, menjanjikan layanan prima bagi pelanggan rumah tangga di wilayah tersebut.

“Prioritas kami adalah menjaga stabilitas penyaluran gas agar masyarakat bisa menikmati manfaatnya secara berkelanjutan tanpa gangguan teknis,” tutup Hedi Hedianto.

Pengalaman di Tarakan ini menjadi potret nyata bagaimana transisi menuju energi pipa tidak hanya soal modernisasi infrastruktur, tetapi juga tentang memberikan perlindungan ekonomi bagi konsumen kecil melalui harga yang lebih stabil dan kompetitif.