Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Tadulako Nambaso 20 Palu memperkenalkan model pembimbingan inovatif yang melibatkan dua lapis pembimbing, yakni wali asrama dan wali asuh. Sistem ini dirancang khusus untuk memberikan pendampingan maksimal kepada peserta didik, terutama mereka yang berasal dari latar belakang ekonomi sulit.
Kepala SRT Tadulako Nambaso 20 Palu, Anita, menjelaskan peran masing-masing pembimbing. “Wali asrama bertugas memastikan kondisi asrama berjalan dengan baik, sementara wali asuh mendampingi siswa secara personal untuk mengetahui perkembangan masing-masing,” kata Anita dalam podcast kolaborasi Kantor Berita ANTARA Biro Sulawesi Tengah dan Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Diskominfosantik) Sulteng, Minggu (31/5).
Pembagian tugas ini terbukti efektif dalam membangun kedisiplinan serta semangat kebersamaan di antara siswa. Secara struktural, satu wali asuh bertanggung jawab atas 10 siswa dengan pertimbangan kesamaan gender. Kebijakan ini bertujuan membangun kepercayaan dan komunikasi yang lebih terbuka antara siswa dan pembimbing mereka.
Aktivitas pembelajaran di SRT Palu berlangsung intensif, dimulai dari pukul 07.00 WITA hingga 17.00 WITA, dilanjutkan dengan kegiatan keasramaan di malam hari. Selain itu, kegiatan refleksi rutin dilakukan untuk mengukur sejauh mana pembelajaran dan pengalaman siswa dalam satu hari penuh.
Anita mengakui tantangan awal yang signifikan, mengingat beberapa siswa yang diterima di SRT Palu terbiasa hidup dalam lingkungan kurang terstruktur atau bahkan pernah putus sekolah. “Anak-anak ini membutuhkan penyesuaian dengan tata tertib dan kedisiplinan yang dibangun di sekolah rakyat,” jelasnya.
Namun, melalui pendekatan yang konsisten dan penuh kasih, siswa-siswa tersebut secara bertahap mulai memahami bahwa aturan dan disiplin bukan sesuatu yang mengekang, melainkan upaya membangun karakter yang kuat. “Lambat laun anak-anak mengerti bahwa kedisiplinan dan kebersamaan, adalah fondasi untuk membangun masa depan mereka yang lebih baik,” ujarnya.
Anita juga menekankan pentingnya pemahaman gender-sensitif dalam pembimbingan. “Ketika wali asuh memiliki jenis kelamin yang sama dengan siswa yang dibimbingnya, terjadi dialog yang lebih natural dan terbuka. Ini penting untuk membangun kepercayaan dan pemahaman yang mendalam,” tambahnya.
Keberhasilan model ini tidak hanya terukur dari perilaku, tetapi juga dari respons emosional siswa. Dalam sesi refleksi, banyak siswa mengungkapkan rasa syukur dan apresiasi terhadap perhatian personal yang mereka terima, merasa dihargai sebagai individu.
Ke depan, Anita berkomitmen untuk terus memperbaiki sistem pembimbingan ini. “Kami akan terus melakukan evaluasi dan penyempurnaan untuk memastikan bahwa setiap siswa mendapatkan dukungan optimal dalam perjalanan pendidikan dan pembentukan karakternya,” tutupnya.
Model pembimbingan dua tingkat di SRT Palu ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lain dalam mengembangkan strategi pendampingan yang efektif dan inklusif bagi siswa dari keluarga kurang mampu.
