KEDUTAAN Besar Korea Selatan di Indonesia mengeluarkan imbauan resmi kepada warganya untuk meningkatkan kewaspadaan saat berkunjung ke Bali. Peringatan yang dirilis pada 1 April 2026 ini secara spesifik menyoroti sejumlah kasus keamanan yang terjadi di destinasi wisata populer tersebut dalam beberapa waktu terakhir.
Imbauan tersebut tidak hanya beredar di kanal diplomatik, tetapi juga menarik perhatian luas media Korea Selatan seperti The Chosun Daily dan Nate News, yang dinilai memperluas dampak isu keamanan Bali hingga ke tingkat global.
Sorotan Kasus Kekerasan dan Praktik Diplomasi Tidak Lazim
Praktisi pariwisata Bali, Giostanov Latto, mengungkapkan bahwa peringatan dari Kedubes Korea Selatan ini berbeda dari imbauan pada umumnya karena memuat rincian kasus kekerasan yang spesifik. “Alih-alih menggunakan bahasa umum seperti ‘tetap waspada’, kedutaan justru merinci sejumlah kasus kekerasan yang melibatkan warga negara asing di Bali dalam waktu kurang dari dua bulan,” kata Giostanov pada Minggu (5/4).
Ia menyebutkan, kasus-kasus yang disorot mencakup penculikan berujung pembunuhan, penusukan fatal, hingga kekerasan seksual di sejumlah kawasan wisata seperti Jimbaran, Seminyak, dan Canggu. Menurut Giostanov, langkah tersebut tidak lazim dalam praktik diplomasi yang biasanya lebih berhati-hati agar tidak memicu kepanikan atau merusak citra destinasi wisata.
“Kita mengusulkan agar pemerintah dan stakeholder segera turun tangan. Bukan tidak mungkin citra ini akan meluas ke negara lain,” ujarnya, menekankan urgensi penanganan isu ini.
Kinerja Pariwisata Kuat, Namun Kejahatan Meningkat
Di tengah isu keamanan yang mencuat, kinerja pariwisata Bali sepanjang tahun 2025 tercatat masih kuat, dengan lebih dari 7 juta wisatawan mancanegara berkunjung ke Pulau Dewata. Korea Selatan sendiri merupakan salah satu pasar utama bagi pariwisata Bali.
Namun, data kepolisian menunjukkan adanya peningkatan kejahatan yang melibatkan warga negara asing hingga sekitar 47 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sejumlah kasus bahkan dikaitkan dengan jaringan kriminal lintas negara. Aparat keamanan telah merespons dengan menggelar Operasi Sikat Agung 2026 yang menyasar tindak kriminal di kawasan pariwisata.
Meski demikian, muncul pertanyaan terkait kesiapan sistem keamanan dalam mengimbangi pesatnya pertumbuhan sektor pariwisata di Bali.
Persepsi Keamanan yang Rapuh dan Respons Pemerintah
Giostanov menilai persoalan utama bukan hanya pada peningkatan kasus, tetapi juga perubahan persepsi wisatawan terhadap keamanan Bali. “Bali tidak tiba-tiba menjadi tidak aman. Tapi persepsi keamanan itu sangat rapuh. Ketika negara seperti Korea Selatan mengeluarkan peringatan detail, itu mengubah cara orang melihat Bali,” jelasnya.
Ia menambahkan, dampak peringatan tersebut bisa meluas ke berbagai aspek, mulai dari forum perjalanan hingga keputusan keluarga dalam merencanakan liburan.
Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan kondisi keamanan daerahnya tetap terkendali. “Bali aman,” ujarnya singkat kepada wartawan beberapa waktu lalu. Di sisi lain, Kepala Dinas Pariwisata Bali Sumarajaya mengaku belum mengetahui adanya peringatan tersebut. “Maaf saya masih ada kegiatan,” ujarnya melalui pesan singkat.
Pemerintah diharapkan segera mengambil langkah koordinatif untuk menjaga kepercayaan wisatawan di tengah meningkatnya perhatian global terhadap isu keamanan di Bali.
