Doha – Qatar menegaskan pentingnya pelibatan negara-negara regional serta pengamanan internasional dalam setiap kesepakatan masa depan terkait Selat Hormuz. Pernyataan ini disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, pada Selasa (7/4/2026), di tengah eskalasi konflik yang berdampak pada jalur pelayaran vital tersebut.
Al-Ansari secara spesifik menyatakan, “Setiap perjanjian mengenai Selat Hormuz setelah perang harus melibatkan peserta regional dan memiliki pengamanan internasional.” Ia menambahkan bahwa mengingat Selat Hormuz adalah jalur air alami, bukan kanal buatan manusia, mencapai kesepakatan tentang kepemilikan bersama menjadi sangat krusial.
Meski berbagai inisiatif telah diupayakan untuk melanjutkan pelayaran, juru bicara tersebut mengungkapkan bahwa kapal dan tanker milik Qatar saat ini tidak dapat melewati selat tersebut. Situasi ini menyoroti dampak langsung dari ketegangan di kawasan.
Kondisi ini tidak terlepas dari memanasnya konflik di Timur Tengah. Pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang mengakibatkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Eskalasi konflik ini secara praktis telah menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur pasokan utama untuk minyak dan gas alam cair (LNG) global. Akibatnya, harga bahan bakar di sebagian besar negara mengalami kenaikan signifikan.
