Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mendesak Iran untuk segera menjamin keamanan jalur pelayaran bagi kapal-kapal dari semua negara yang melintasi Selat Hormuz. Desakan ini disampaikan Takaichi dalam percakapan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Kamis, 30 April 2026.

Setelah percakapan tersebut, Takaichi mengungkapkan kepada wartawan bahwa ia menyampaikan harapan besar Tokyo agar negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dapat segera dilanjutkan. Tujuan negosiasi ini adalah untuk mengakhiri konflik dan mencapai “kesepakatan akhir” yang komprehensif.

Takaichi juga menyambut baik transit kapal tanker minyak milik Jepang melalui Selat Hormuz pada awal pekan ini. Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai “langkah positif” mengingat Selat Hormuz merupakan jalur maritim krusial untuk transportasi minyak mentah global.

“Kami akan secara proaktif melanjutkan setiap upaya dan pengaturan diplomatik,” kata Takaichi, menegaskan komitmen Jepang untuk menjaga komunikasi erat dengan Iran dalam upaya diplomatik tersebut.

Jepang sangat bergantung pada pasokan minyak mentah dari Timur Tengah, yang sebagian besar diangkut melalui Selat Hormuz. Penutupan efektif selat tersebut sejak akhir Februari lalu akibat konflik telah memaksa Jepang untuk mencari dan mendiversifikasi sumber energi lainnya.

Sebelumnya, Takaichi dan Pezeshkian juga telah berkomunikasi melalui telepon pada 8 April, menyusul pengumuman kesepakatan gencatan senjata bersyarat selama dua pekan antara Washington dan Teheran. Gencatan senjata tersebut, yang masih berlaku, belum diikuti oleh kemajuan dalam perundingan antara AS dan Iran, yang saat ini masih terhenti.