Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) secara masif menggeser fokus kebijakan ketenagakerjaan menuju pasar global, dengan Jerman sebagai target utama. Langkah strategis ini ditandai dengan kelulusan angkatan pertama pelatihan bahasa Jerman level A2 yang digelar di Majalengka, Minggu (3/5/2026), menandai tonggak awal internasionalisasi tenaga kerja dari daerah.

Program ambisius ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemprov Jabar dan lembaga pelatihan Instudia sebagai mitra teknis. Direktur Instudia, Aceng Imam, menjelaskan bahwa pelatihan dirancang secara komprehensif, tidak hanya berfokus pada kemampuan bahasa, tetapi juga kesiapan kerja secara menyeluruh.

Kesiapan Menuju Ekosistem Kerja Jerman

“Target kami bukan hanya peserta lulus A2, tapi siap masuk ekosistem kerja di Jerman. Karena itu selain bahasa, kami biasakan mereka dengan disiplin belajar, pemahaman budaya kerja, dan kesiapan administratif,” ujar Aceng, Minggu (3/5/2026).

Ia menambahkan, sistem pembelajaran dilakukan secara hybrid, menggabungkan kelas daring dan tatap muka. Metode ini memungkinkan pelatihan menjangkau ratusan peserta dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Barat secara efektif, sekaligus menjaga kualitas pembelajaran melalui monitoring berbasis digital.

Dorongan untuk memperluas pasar kerja ke luar negeri juga mendapat dukungan legislatif. Ketua Komisi V DPRD Jabar, Yomanius Untung, menilai program ini sebagai strategi besar dalam mengubah profil tenaga kerja daerah.

Transformasi Tenaga Kerja Lokal Menjadi Warga Dunia

“Ini bukan sekadar pelatihan. Ini strategi untuk mengubah tenaga kerja kita dari pencari kerja lokal menjadi warga dunia yang kompetitif,” kata Yomanius.

Menurutnya, Jerman dipilih sebagai tujuan utama karena menawarkan standar perlindungan dan kompensasi yang tinggi dibandingkan negara tujuan tradisional seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Berdasarkan proyeksi program, pekerja dengan sertifikasi bahasa level A2 berpotensi memperoleh penghasilan antara 2.300 hingga 2.600 euro per bulan atau sekitar Rp45 juta hingga Rp52 juta. Sementara itu, lulusan dengan kemampuan bahasa lebih tinggi seperti B1 atau B2 dapat meraih hingga 5.000 euro per bulan.

“Ini pergeseran paradigma. Kita tidak lagi mendorong tenaga kerja sebagai buruh migran tradisional, tetapi sebagai profesional yang dihargai karena keahlian,” tegasnya.

Tantangan Pembiayaan dan Pentingnya Keahlian Teknis

Untuk memperluas akses, Pemprov Jabar menggratiskan biaya pelatihan bahasa bagi peserta. Kebijakan ini ditujukan agar calon tenaga kerja dari berbagai latar belakang ekonomi tetap memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti program.

Namun, tantangan tidak berhenti pada pelatihan. Yomanius mengungkapkan bahwa pembiayaan keberangkatan masih menjadi kendala. Pemerintah daerah tengah mendorong evaluasi skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi pekerja migran serta meminta dukungan BP2MI dan pemerintah pusat untuk memperluas akses pendanaan.

Ia menegaskan, penguasaan bahasa hanyalah pintu awal. Kompetensi teknis, terutama di sektor kesehatan dan perawatan, menjadi faktor utama keberhasilan di pasar kerja Jerman.

“Bahasa adalah kunci masuk, tetapi keahlian teknis yang membuat mereka bertahan dan berkembang,” ujarnya.

Selain itu, calon pekerja juga diwajibkan memenuhi sejumlah persyaratan, mulai dari kesiapan mental dan fisik menghadapi iklim empat musim, kepatuhan terhadap prosedur resmi, kelengkapan dokumen, hingga kompetensi vokasional sesuai kebutuhan industri. Pemerintah juga mengingatkan peserta agar tidak tergiur tawaran ilegal dari calo atau broker. Jalur resmi menjadi satu-satunya cara untuk menjamin perlindungan hukum dan keselamatan pekerja di luar negeri. Dengan pendekatan terstruktur dan kolaboratif, program ini diharapkan menjadi model nasional dalam mendorong tenaga kerja Indonesia yang profesional, legal, dan berdaya saing global.