Jasad pendaki Yazid Ahmad Firdaus yang dilaporkan hilang di Bukit Mongkrang akhirnya ditemukan. Korban ditemukan pada Selasa, 10 Februari 2026, setelah proses pencarian panjang yang berlangsung sejak Januari. Penemuan ini berlokasi di sebuah kawasan yang secara geografis berada jauh di luar jalur pendakian normal, yakni sekitar 1,7 kilometer dari Pos 3, titik terakhir Yazid terlihat oleh rekan pendakiannya.

Pemuda asal Colomadu tersebut ditemukan di area yang dikenal dengan nama Topok Nogo. Kawasan ini merupakan wilayah lembahan yang menjadi titik pertemuan antara lereng Bukit Mongkrang dan Bukit Mitis. Berdasarkan data tim SAR, titik koordinat penemuan berada di aliran sungai yang terletak di bawah kawasan perbukitan.

Medan di lokasi penemuan jasad Yazid dikategorikan sangat ekstrem dengan kontur tanah yang terjal. Area ini dipenuhi oleh patahan-patahan tebing yang membuat akses menuju lokasi menjadi sangat berisiko bagi tim pencari. Selain faktor kecuraman, jasad korban ditemukan dalam kondisi yang sulit terpantau dari area ketinggian.

Posisi tubuh korban tertutup oleh tumpukan pohon pisang dan tersangkut pada batang kayu di pinggir aliran sungai. Keberadaan vegetasi berupa pohon pisang yang tumbuh di pinggir sungai tersebut menjadi salah satu alasan mengapa keberadaan korban sulit terdeteksi selama masa pencarian awal. Tim harus melakukan penyisiran hingga ke dasar lembah.

Ketua Tim Operasi Mongkrang Wanadri, Badawi, menjelaskan bahwa lokasi penemuan ini sinkron dengan hasil analisis rekonstruksi. Tim sebelumnya sudah mencurigai area Topok Nogo berdasarkan data kronologis yang dikumpulkan. Dari hasil analisis peta, kawasan tersebut memiliki bentang alam berupa pertemuan sungai-sungai kecil atau yang disebut dengan “tempuran”. Aliran air dari lokasi ini nantinya akan mengarah menuju wilayah Beruk.

Meskipun jarak horizontal dari titik terakhir terlihat hanya berkisar 1,5 hingga 1,7 kilometer, perbedaan elevasi di lokasi tersebut sangat signifikan. Kedalaman lembah di antara dua lereng memanjang menjadi tantangan utama. Tim SAR menyebutkan bahwa posisi korban ditemukan di dasar jurang yang hanya bisa dijangkau oleh personel dengan kualifikasi teknis tertentu. Kedalaman dan bentang alam di antara dua lereng tersebut membatasi jarak pandang tim dari jalur utama.

Dugaan sementara berdasarkan letak geografis menunjukkan bahwa korban mengikuti aliran sungai setelah kehilangan arah. Yazid diperkirakan berusaha menuruni lembah namun terhambat oleh kondisi medan yang terdiri dari banyak patahan air terjun. Setelah posisi korban dipastikan di titik tersebut, tim segera merancang skenario evakuasi.

Mengingat jarak 1,7 km menuju Pos 3 didominasi tanjakan terjal, evakuasi dilakukan dengan mengikuti aliran sungai ke arah bawah. Jasad korban akhirnya ditarik menuju arah Beruk karena secara teknis lebih memungkinkan dibandingkan harus mendaki kembali ke arah Mongkrang atau Mitis. Keputusan ini diambil untuk mempercepat proses pemulangan jasad.

Yazid Ahmad Firdaus sebelumnya dilaporkan hilang saat melakukan aktivitas pendakian pada 18 Januari 2026. Penemuan jasadnya di jarak 1,7 km dari jalur pendakian ini sekaligus menutup operasi pencarian panjang yang melibatkan tim gabungan dari berbagai daerah.