Fenomena video yang menampilkan konflik antara ibu tiri dan terus menjadi sorotan di berbagai platform , mulai dari TikTok, Instagram, hingga YouTube. Konten-konten ini kerap disajikan dalam bentuk potongan klip pendek, seringkali tanpa menyertakan konteks lengkap dari kejadian aslinya, memicu perdebatan publik yang intens dan polarisasi opini di kalangan warganet.

Psikolog keluarga, Dr. Indah Permata, menyoroti bahaya narasi yang terfragmentasi ini. “Potongan cerita ini sangat berbahaya karena bisa memicu stigma dan menghakimi tanpa memahami akar masalahnya. Hubungan dalam keluarga tiri itu kompleks dan tidak bisa disederhanakan dalam klip singkat,” ujarnya. Persepsi negatif yang keliru tentang dinamika keluarga tiri dapat terbentuk di benak publik, diperparah oleh stereotip yang sudah ada dalam budaya populer.

Pengamat media sosial, Budi Santoso, menambahkan bahwa algoritma platform digital turut berperan dalam viralisasi konten semacam ini. “Algoritma cenderung memprioritaskan konten yang memicu emosi kuat, termasuk drama dan konflik. Ini menciptakan lingkaran setan di mana konten yang sensasional lebih mudah menyebar, terlepas dari kebenarannya,” jelas Santoso.

Beberapa kasus menunjukkan bahwa video yang menjadi viral seringkali merupakan bagian dari skenario atau konten yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian dan meningkatkan engagement. Para kreator konten memanfaatkan ‘drama’ ini untuk mendulang jumlah pengikut dan monetisasi, seringkali tanpa mempertimbangkan etika dan dampak jangka panjang terhadap individu yang terlibat, terutama anak-anak.

Dampak negatif dari viralisasi konten semacam ini sangat nyata, termasuk potensi perundungan siber terhadap individu yang terlibat dan kerusakan reputasi. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pernah mengeluarkan imbauan agar masyarakat lebih bijak dalam menyebarkan konten yang melibatkan anak-anak, terutama yang berpotensi mengekspos konflik keluarga dan melanggar privasi.

Pentingnya literasi digital ditekankan sebagai kunci untuk membantu masyarakat membedakan antara fakta dan fiksi dalam konten viral. Edukasi mengenai dinamika keluarga tiri yang kompleks dan beragam juga sangat diperlukan untuk melawan narasi tunggal yang sering disajikan secara dangkal di media sosial. Masyarakat diimbau untuk selalu berpikir kritis dan mencari informasi yang utuh sebelum menarik kesimpulan atau ikut menyebarkan konten yang belum terverifikasi.