Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengambil langkah berani dengan mengerahkan dana abadi kampus untuk menahan ratusan mahasiswanya agar tidak mengundurkan diri akibat kesulitan ekonomi. Kebijakan ini menjadi respons atas gelombang pengunduran diri mahasiswa yang menghantui berbagai kampus di Indonesia.

Di bawah kepemimpinan Rektor Profesor Bambang Pramujati, ITS mengalokasikan total dana beasiswa fantastis sebesar Rp195,6 miliar. Dana tersebut disiapkan untuk menopang masa depan 9.324 anak didik sepanjang tahun 2025, memastikan mereka dapat melanjutkan studi hingga tuntas.

ITS Larang Mahasiswa Mundur Akibat Ekonomi

Profesor Bambang Pramujati menjelaskan bahwa kebijakan ini lahir dari realitas lapangan yang memprihatinkan. Ia menemukan banyak mahasiswa yang lolos Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) untuk biaya pendidikan, namun tidak mendapatkan tunjangan biaya hidup. Kondisi ini seringkali memaksa mereka untuk mundur dari perkuliahan.

“Banyak kampus melaporkan mahasiswa dalam kondisi tersebut memilih mundur. Di ITS, kami melarang itu terjadi. Mereka harus tetap lanjut kuliah,” tegas Bambang saat memaparkan skema penerimaan mahasiswa baru dalam acara ITS Media Gathering 2026 di Solo, Sabtu (31/1/2026).

Untuk menambal celah tersebut, ITS mengoptimalkan dana abadi sebagai solusi jangka panjang. Bambang berkomitmen menyalurkan subsidi rata-rata Rp1 juta per bulan bagi setiap mahasiswa terdampak hingga mereka meraih gelar sarjana. Meskipun nominalnya sedikit di bawah standar KIP-K pusat yang mencapai Rp1,25 juta, dana abadi ini menjadi sekoci penyelamat bagi ribuan mahasiswa.

Selain itu, ITS juga aktif menggandeng mitra eksternal, termasuk dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Gubernur Khofifah Indar Parawansa melalui programnya disebut siap memberikan bantuan penuh bagi mahasiswa asal Jawa Timur yang memenuhi kriteria.

Dampak Positif dan Perluasan Akses Pendidikan

Upaya ITS ini terbukti membuahkan hasil positif. Sepanjang tahun lalu, 9.324 penerima beasiswa ITS berhasil mencatatkan lebih dari 2.000 prestasi di berbagai level. Melalui lebih dari 70 skema beasiswa yang tersedia, ITS secara bertahap menghapus stigma bahwa pendidikan teknik kelas wahid hanya bisa diakses oleh kalangan berpunya.

Tidak hanya fokus pada dukungan finansial, ITS kini juga proaktif menjemput bola ke daerah-daerah. Bambang mengungkapkan bahwa timnya tengah bergerilya mencari talenta unggul dari kabupaten yang selama ini jarang melirik ITS. Jalur Golden Ticket pun disiapkan sebagai karpet merah bagi mereka untuk masuk tanpa hambatan birokrasi tes.

“Kami membuka pintu bagi ketua OSIS dan siswa berprestasi lewat jalur tanpa tes. Kami ingin ITS menjadi rumah bagi putra-putri terbaik dari seluruh penjuru Indonesia, tanpa terkecuali,” tambahnya.

Strategi Penerimaan Mahasiswa Baru 2026

Menatap tahun akademik 2026, ITS berencana menjaring sekitar 6.300 mahasiswa baru jenjang sarjana. Namun, terdapat pergeseran strategi signifikan. Mengikuti arahan kementerian, ITS tidak lagi berambisi menambah kuota sarjana secara besar-besaran, melainkan mengalihkan fokus pada penguatan jumlah mahasiswa pascasarjana.

Bagi calon mahasiswa yang mengincar kursi di ITS, rangkaian seleksi tahun 2026 akan dimulai melalui jalur SNBP pada Februari dan SNBT di bulan Maret. Sementara itu, pendaftaran jalur mandiri dan prestasi (SMITS) akan dibuka sepanjang April hingga Juni 2026.

“Anggaran dan skema beasiswa ini adalah pesan bagi masyarakat, siapa pun yang punya kemauan dan prestasi, pintunya terbuka lebar di sini,” tutup Profesor Bambang Pramujati.