Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti kekuatan ideologis dan historis Iran yang dinilainya berhasil membangun identitas bangsa. Menurut Dedi, Iran tidak sekadar menjadikan ideologi sebagai doktrin, melainkan telah menginternalisasikannya menjadi nilai yang menyatu dalam kehidupan masyarakat.

“Iran sudah menginternalisasi nilai ideologi menjadi nilai filosofi sebagai Syiah, kemudian menjadi nilai history sebagai seorang Persia, hingga menjadi nilai humanisme sebagai manusia yang setara,” kata Dedi saat menghadiri sebuah kegiatan di Bandung, Senin (27/4).

Dedi Mulyadi memuji ketahanan sistem kenegaraan Iran yang dianggapnya mampu memadukan berbagai aspek nilai fundamental secara kokoh. Hal ini disampaikannya ketika menyoroti pentingnya sebuah sistem negara yang tidak hanya bergantung pada sosok figur pemimpin semata.

“Negaranya adalah sistem. Hilangnya pemimpin tertinggi tidak membuat negaranya ambruk, tetapi justru membuat negaranya semakin kokoh,” ujarnya.

Menurut Dedi, proses panjang tersebut telah melahirkan kebanggaan nasional dan mentalitas bangsa yang tidak mengenal rasa takut. Hasilnya, Iran memiliki sistem ketatanegaraan yang sangat stabil.

Pada sisi lain, Dedi mengkritik budaya politik di Tanah Air. Ia menyayangkan adanya loyalitas politik yang dinilai semu dan sangat bergantung pada jabatan seseorang.

“Lain dengan di kita. Kalau pemimpinnya jatuh, yang kemarin memuji habis-habisan, besok ngomongnya paling kencang sudah beda lagi judulnya,” kata Dedi, menyindir kondisi politik di Indonesia.