Ruang Bimbingan Konseling (BK) di sekolah seringkali menjadi tempat yang kurang nyaman bagi banyak remaja. Dinding tebal rasa malu kerap menghalangi siswa untuk secara jujur mengungkapkan beban pikiran mereka kepada guru. Celah komunikasi inilah yang kini coba dijembatani oleh Chavel Aiko Ratu, seorang mahasiswa Teknik Informatika Universitas Surabaya (Ubaya), melalui inovasi tugas akhirnya.
Chavel melahirkan Rasaya, sebuah aplikasi ponsel yang lebih dari sekadar alat komunikasi. Rasaya adalah sistem informasi terintegrasi yang dirancang untuk memotret tren kesehatan mental siswa secara digital. Dengan memanfaatkan metode Lexicon-Based Sentiment Analysis, program ini mampu menganalisis dan membedakan perasaan siswa, apakah mereka sedang menghadapi stres akademik atau terlibat dalam konflik sosial, hanya melalui data yang diinput.
Mengatasi Kesenjangan Komunikasi dan Data
Ide pengembangan Rasaya bermula dari riset Chavel di sebuah SMA di Kota Kupang. Ia menemukan bahwa guru seringkali terlambat dalam mendeteksi gangguan mental pada siswanya. Hal ini disebabkan oleh minimnya pencatatan yang sistematis mengenai kondisi emosional siswa.
“Para siswa ternyata malu mengekspresikan perasaan secara langsung. Dampaknya, guru tidak punya gambaran utuh soal kondisi batin anak didiknya,” ungkap Chavel, menjelaskan akar masalah yang ingin dipecahkan oleh Rasaya.
Di balik antarmuka pengguna yang sederhana, Rasaya menyimpan mesin pengolah data yang canggih. Chavel merancang algoritma khusus yang telah divalidasi oleh psikolog anak dan remaja. Validasi ini krusial untuk memastikan bahwa hasil analisis sistem tetap akurat dan objektif, memberikan gambaran yang dapat diandalkan bagi pihak sekolah.
Fitur Inovatif untuk Pendampingan Holistik
Aplikasi ini dilengkapi dengan berbagai fitur yang mendukung pendampingan kesehatan mental siswa. Salah satunya adalah daily mood tracker, yang memungkinkan siswa mencatat emosi harian mereka. Selain itu, ada fitur unik ‘lapor teman’ yang dirancang untuk mendapatkan data dari berbagai sudut pandang atau multi-informan. Pendekatan ini memastikan bahwa potret kondisi emosi siswa tidak hanya bersifat subjektif, melainkan diperkaya dengan perspektif dari lingkungan sosial mereka.
Perjalanan Chavel dalam membangun Rasaya bukanlah tanpa tantangan. Ia menghabiskan waktu hingga tiga bulan hanya untuk menyempurnakan presisi machine learning yang menjadi inti aplikasi ini.
“Jumlah revisinya tidak terhitung. Sangat menantang, tapi saya ingin sistem ini benar-benar bisa diandalkan,” tambah mahasiswa peminatan Sistem Informasi Bisnis tersebut, menegaskan komitmennya terhadap kualitas Rasaya.
Bagi pihak sekolah, data yang dihasilkan oleh Rasaya menjadi panduan penting dalam merumuskan kebijakan pendampingan. Guru BK tidak lagi harus menebak-nebak kondisi siswanya, melainkan dapat bertindak berdasarkan tren emosi yang terekam secara berkelanjutan dan terukur dalam sistem.
Saat ini, Chavel terus mematangkan Rasaya agar siap diimplementasikan secara massal. Ambisinya jelas: memastikan tidak ada lagi “jeritan minta tolong” dari siswa yang terabaikan, hanya karena mereka terlalu malu untuk berbicara. Dengan sentuhan teknologi, penanganan kesehatan mental di lingkungan sekolah diharapkan dapat dilakukan dengan cara yang lebih manusiawi dan efektif.
