Dunia internasional kembali menyoroti kuatnya akar toleransi di Indonesia melalui gelaran “Indonesia Walk for Peace”. Perjalanan spiritual yang melibatkan para Bhikkhu dari Thailand dan Indonesia ini bukan sekadar aktivitas fisik berjalan kaki, melainkan sebuah manifestasi nyata dari semangat Bhinneka Tunggal Ika yang melintasi batas negara dan keyakinan.
Pada Senin, 25 Mei 2026, rombongan “Indonesia Walk for Peace” tiba di Yogyakarta. Mereka disambut langsung oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Bangsal Kepatihan. Pertemuan ini mempertegas posisi Yogyakarta sebagai ruang budaya yang inklusif bagi pesan-pesan perdamaian dunia.
Makna Mendalam “Niti-Laku” dari Sri Sultan HB X
Dalam sambutannya, Sri Sultan Hamengku Buwono X memberikan pemaknaan mendalam terhadap gerakan ini dengan istilah Niti-Laku. Menurut beliau, “Indonesia Walk for Peace” mencerminkan retrospeksi atau refleksi perjalanan kehidupan yang sangat penting bagi manusia modern.
“Ia adalah niti-laku: menengok jejak perjalanan sejarah dari masa ke masa, dan merevitalisasinya agar bermakna untuk masa kini dan masa yang akan datang,” ungkap Sri Sultan.
Bagi Ngarsa Dalem, sapaan akrab Sri Sultan, perjalanan ini memiliki dua dimensi utama. Pertama, sebagai simbolisasi langkah maju, sebuah upaya kolektif menuju masa depan bangsa yang lebih harmonis dan bermartabat. Kedua, sebagai sarana penyebaran energi positif untuk menyebarkan harmoni antarumat beragama di tengah dinamika global.
Merajut Solidaritas Lintas Provinsi Menuju Borobudur
“Indonesia Walk for Peace” merupakan gerakan kolaboratif yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Perjalanan ini tidak hanya diikuti oleh para Bhikkhu dari Thailand dan Indonesia, tetapi juga umat dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Titik akhir perjalanan spiritual ini adalah Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, yang merupakan simbol agung peradaban dan spiritualitas serta magnet perdamaian dunia.
| Komponen Perjalanan | Keterangan |
|---|---|
| Asal Peserta | Bhikkhu dari Thailand dan Indonesia, serta umat dari Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta |
| Titik Akhir | Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah |
| Misi Utama | Merayakan kebersamaan, memperkuat solidaritas, dan meneguhkan perdamaian sebagai fondasi bangsa |
Gerakan ini mempertegas bahwa keberagaman suku, agama, dan budaya di Indonesia adalah kekayaan yang menyatukan, bukan memisahkan. Dengan berjalan bersama, para peserta menunjukkan bahwa perbedaan langkah kaki tetap bisa menuju pada satu tujuan yang sama: perdamaian.
Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan bahwa penyambutan terhadap para Bhikkhu dilakukan dengan “hati yang lapang dan kehangatan yang tulus”. Hal ini mencerminkan karakter bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan di atas perbedaan dogma.
“Indonesia Walk for Peace” adalah pengingat bagi kita semua bahwa perdamaian memerlukan upaya nyata dan langkah yang konsisten. Melalui filosofi Niti-Laku, perjalanan dari Thailand hingga Borobudur ini menjadi pesan kuat bagi dunia bahwa Indonesia tetap menjadi rumah yang hangat bagi keberagaman dan laboratorium perdamaian yang hidup.
