Kota Batam – Para pelaku usaha kuliner, khususnya pemilik rumah makan Padang di Kota Batam, menghadapi tantangan berat menjelang Ramadan tahun ini. Lonjakan harga daging sapi yang signifikan memaksa mereka memutar otak demi menjaga kelangsungan bisnis di tengah daya beli masyarakat yang rentan.
Memasuki pekan ke-10 menjelang bulan suci, data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam menunjukkan harga daging sapi beku kini rata-rata di atas Rp110.000 per kilogram. Angka ini melonjak drastis dari harga normal yang berkisar Rp80.000 hingga Rp90.000 per kilogram. Kondisi semakin parah di pasar tradisional, di mana harga daging sapi segar bahkan telah menyentuh Rp150.000 per kilogram.
Kenaikan ini menjadi pukulan telak bagi rumah makan Padang yang sangat bergantung pada pasokan daging sapi untuk menu unggulan seperti rendang dan gulai. Luki (29), pemilik Restoran Aden Suko di kawasan Batam Centre, mengungkapkan terpaksa memangkas volume pembelian bahan baku.
“Pelanggan seperti penjual rumah makan Padang tetap beli, tapi jumlahnya berkurang. Biasanya ambil lima kilogram, sekarang cuma dua kilogram,” ujar Luki pada Sabtu (28/2/2026).
Penurunan volume pembelian ini tidak hanya menyulitkan pengusaha rumah makan, tetapi juga berdampak pada pedagang daging di pasar. Omzet mereka dilaporkan merosot hingga hampir 50% dibandingkan hari biasa.
Selain daging, tekanan ekonomi juga datang dari kenaikan harga komoditas pokok lainnya seperti beras, gula, dan ayam. Yudhi (32), seorang pedagang makanan di Batam Centre, mengeluhkan margin keuntungan yang kian menipis. Ia mengaku dilematis untuk menaikkan harga jual karena khawatir akan kehilangan pelanggan.
“Harga bahan baku naik semua, tapi kalau harga makanan dinaikkan terlalu tinggi, pelanggan bisa kabur. Akhirnya kami cuma bisa kurangi margin,” keluh Yudhi. Ia juga menyayangkan minimnya pengawasan petugas di lapangan saat situasi pasar mulai tidak kondusif.
Untuk bertahan, para pengusaha kuliner umumnya menerapkan dua strategi utama: menyesuaikan porsi daging dalam setiap sajian atau menaikkan harga secara bertahap untuk menu berbahan dasar sapi. Beberapa di antaranya juga mulai menawarkan lebih banyak lauk alternatif seperti telur dan ayam agar harga tetap terjangkau oleh konsumen.
Di sisi lain, respons dari otoritas terkait cenderung normatif. Pihak Disperindag Batam menilai tren kenaikan harga menjelang hari besar keagamaan adalah fenomena tahunan yang masih dalam batas wajar. “Sebenarnya kami tidak perlu ke lapangan, cukup bertanya pada pedagang. Yang paling penting tidak melebihi HET,” ujar salah satu petugas Disperindag Batam saat dikonfirmasi.
Sikap ini kontras dengan harapan para pelaku UMKM. Mereka sangat menantikan langkah konkret dari pemerintah untuk menstabilkan harga pangan agar roda ekonomi kecil tetap bisa berputar tanpa harus mengorbankan kualitas layanan kepada masyarakat.
