PALU – Sektor industri pengolahan menjadi kontributor terbesar bagi pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah (Sulteng) dengan presentase mencapai 43,43 persen. Kontribusi signifikan ini mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang mengesankan pada Triwulan I 2026, yakni sebesar 8,32 persen.
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, menegaskan peran vital sektor tersebut saat menghadiri forum ekonomi keuangan yang diselenggarakan Bank Indonesia di Palu pada Kamis (7/5/2026).
“Pertumbuhan ekonomi Sulteng sangat mengesankan pada triwulan I 2026 yakni 8,32 persen dan industri pengolahan masih menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Gubernur Anwar Hafid.
Kekuatan sektor industri pengolahan ditopang oleh peningkatan produksi nikel yang tumbuh sekitar 15,9 persen. Selain itu, sektor penunjang lainnya seperti pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 16,19 persen, serta pertambangan dan penggalian sebesar 14,17 persen. Ketiga lapangan usaha ini secara total memberikan kontribusi sebesar 73,79 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Sulteng.
Meski demikian, Anwar Hafid menyatakan bahwa pemerintah daerah berencana melakukan transformasi ekonomi ke depan. “Saat ini kekuatan ekonomi daerah masih bergantung pada sektor industri pengolahan, ke depan kami melakukan transformasi mengandalkan sektor pertanian dan perikanan, guna menunjang pertumbuhan berkelanjutan,” jelasnya.
Guna memperkuat ketahanan ekonomi daerah dan menambah sumber pendapatan asli daerah (PAD), Pemprov Sulteng menggagas kerja sama investasi dengan dua provinsi di Tiongkok, yakni Hainan dan Sichuan. Kerja sama ini khusus di bidang pertanian dan perikanan, dengan penandatanganan nota kesepakatan dijadwalkan pada 17 Mei 2027 di Tiongkok.
“Industrialisasi pertanian dan perikanan menjadi model pertumbuhan ekonomi baru di Sulteng, karena di dalamnya menyangkut penguatan rantai pasok,” ucap Anwar.
Dalam upaya menjaga stabilitas ekonomi daerah, Pemprov Sulteng juga fokus pada pengendalian inflasi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan (year on year/yoy) Sulawesi Tengah pada Maret 2026 tercatat sebesar 2,83 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 112,03.
Dari sisi pengeluaran, Gubernur Anwar Hafid menyoroti pertumbuhan tertinggi pada konsumsi pemerintah sebesar 21,03 persen, diikuti oleh ekspor barang dan jasa sebesar 11,95 persen. “Dari sisi pengeluaran, terutama pengeluaran konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 21,03 persen, diikuti ekspor barang dan jasa sebesar 11,95 persen,” tuturnya.
Anwar Hafid menambahkan, tantangan ekonomi ke depan semakin kompleks di tengah ketidakpastian global. Oleh karena itu, investasi perlu terus diperkuat dan dikembangkan dengan mengandalkan berbagai potensi sumber daya alam (SDA) yang dimiliki daerah.
“Kami terus berupaya meningkatkan ketahanan ekonomi daerah melalui kolaborasi lintas sektor, karena ketidakpastian ekonomi global dapat memberikan dampak serius terhadap daerah bila langkah-langkah antisipasi tidak dilakukan,” pungkasnya.
