Di bawah terik matahari Ponorogo, Senin, 9 Februari 2026, ratusan becak tua berjejer rapi di kawasan Sentra Industri, Jalan Trunojoyo. Para pengayuh, sebagian besar telah beruban dengan langkah tertatih, menanti sebuah harapan yang akhirnya terwujud. Hari itu, 200 pebecak lansia di Ponorogo menerima bantuan becak listrik dari Presiden RI Prabowo Subianto, sebuah inisiatif yang mengubah perjuangan harian mereka menjadi lebih manusiawi.

Selama puluhan tahun, mengayuh becak bukan sekadar pekerjaan bagi mereka, melainkan pertarungan fisik melawan usia dan tuntutan hidup. Setiap tarikan pedal membutuhkan tenaga ekstra, terutama bagi mereka yang tak lagi muda. Kehadiran becak listrik ini menjadi angin segar, mengurangi beban fisik yang selama ini membelenggu.

Senyum Merekah di Alun-alun Ponorogo

Usai penyerahan simbolis di Sentra Industri, rombongan becak listrik langsung diuji coba. Dengan senyum merekah dan tawa yang terdengar, para pebecak mengendarai kendaraan baru mereka menuju Pendopo Agung Kabupaten Ponorogo, lalu berlanjut ke Alun-alun Ponorogo. Raut lelah yang biasa terpancar kini berganti dengan ekspresi lega dan gembira.

Wakil Ketua Umum Yayasan Gerakan Solidaritas Nusantara (GSN), Nanik S. Deyang, menegaskan bahwa bantuan ini merupakan wujud kepedulian terhadap para pebecak lansia. “Banyak dari mereka sudah lanjut usia, tapi tetap bekerja karena tidak ingin bergantung pada orang lain,” ujar Nanik. Ia menambahkan, becak listrik diberikan agar mereka tetap bisa mencari nafkah dengan lebih bermartabat. Nanik juga mengingatkan bahwa bantuan ini tidak boleh diperjualbelikan karena merupakan sarana utama bagi penerima untuk tetap mandiri. “Ini bukan sekadar kendaraan, tapi alat agar mereka tetap merasa berguna,” tegasnya.

Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, turut mengapresiasi bantuan tersebut. Menurutnya, becak listrik membawa perubahan nyata bagi kehidupan para pebecak, tidak hanya meringankan pekerjaan tetapi juga berkontribusi pada keselamatan dan kesehatan mereka. “Di usia yang tidak lagi muda, mereka masih ingin bekerja dengan bermartabat. Bantuan ini sangat berarti,” kata Lisdyarita.

Di bawah rindang pepohonan Alun-alun Ponorogo, ratusan becak listrik berjejer rapi, menjadi saksi bisu harapan baru. Bagi para pebecak, hari itu bukan hanya tentang menerima bantuan, melainkan tentang dimulainya babak baru di mana usia senja tak lagi harus identik dengan kelelahan, melainkan dengan kemandirian dan martabat yang terjaga.