Forum Kerukunan Umat Beragama Sulawesi Tengah (FKUB Sulteng) menggelar kegiatan ngobrol pintar (ngopi) kerukunan di Palu pada Jumat (15/5/2025). Acara ini menjadi wadah untuk membedah program unggulan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng yang diberi nama ‘Berani Berkah’.
Program “Berani Berkah” dan Misi Moderasi Beragama
Ketua FKUB Sulteng, Prof. Zainal Abidin, menjelaskan bahwa program “Berani Berkah” digagas oleh Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid. Program ini diwujudkan melalui gerakan “Sulteng Mengaji” dan “Sulteng Berjamaah”, yang menurutnya, sejalan dengan misi moderasi beragama.
Zainal Abidin menegaskan keinginan FKUB agar agama menjadi sumber perdamaian. “Tidak mungkin kita mewujudkan Sulteng Nambaso jika agama menjadi sumber pertikaian. Perdamaian dunia hanya bisa dicapai jika ada perdamaian antaragama,” ujarnya dalam kesempatan tersebut.
Ia menambahkan bahwa kepercayaan dari setiap majelis agama adalah kunci agar gagasan toleransi yang diusung FKUB benar-benar menjadi milik bersama. “Karena agama seperti pedang bermata dua yang bisa menjadi sumber perdamaian, namun bisa juga menjadi sumber pertikaian,” ucap Zainal, yang juga dikenal sebagai pakar pemikir Islam modern.
Menurutnya, program “Berani Berkah” sangat bermanfaat untuk meningkatkan kecerdasan spiritual sekaligus memberikan pengarahan dalam merawat keberagaman dalam konteks sosial keagamaan.
Prof. Zainal Abidin merinci bahwa “Sulteng Mengaji” tidak hanya dimaknai sebagai membaca kitab suci secara harfiah. Lebih dari itu, ia mengajak untuk mengkaji nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an, termasuk sebagai basis moral bagi umat penganutnya. Sementara itu, kata “berjamaah” dimaknai sebagai bersatu dalam tujuan, meskipun dengan cara yang berbeda-beda.
“Visi besar kami menjadikan FKUB sebagai rumah besar bagi seluruh umat beragama. Moderasi beragama bersinergi dengan program Berani Berkah,” kata Zainal.
Ia menjelaskan bahwa moderasi beragama bukan berarti menggabungkan agama, melainkan cara beragama yang moderat, yang mampu menerima berbagai perbedaan dan saling menghargai satu sama lain. Hidup berdampingan tanpa mempersoalkan perbedaan keyakinan, menurutnya, akan menjadi kekuatan besar dalam menjaga kesatuan dan persatuan bangsa, serta mendukung pembangunan daerah.
“Tidak perlu memperdebatkan perbedaan, hidup berdampingan jauh lebih indah,” tambahnya.
Gubernur Anwar Hafid Tekankan Nilai Spiritual untuk Kesejahteraan Daerah
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid mengemukakan bahwa kemajuan suatu daerah sangat bergantung pada seberapa kuat nilai-nilai spiritual terinternalisasi dalam kehidupan masyarakat. Ia merujuk pada pengalamannya saat memimpin Kabupaten Morowali, di mana penerapan nilai spiritual mampu membawa daerah tersebut menjadi lebih sejahtera.
“Semua sejarah pemerintahan hancur bukan karena kekuatannya lemah, tapi karena penerapan nilai-nilai spiritual ditinggalkan. Jika ingin rakyat sejahtera, nilai spiritual harus terwujud dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Anwar Hafid.
Dialog kerukunan ini turut dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Sulteng Junaidin dan para tokoh lintas agama.
