Duka mendalam akibat banjir yang meluluhlantakkan kawasan Pulau Sumatra pada 24-27 November 2027 masih menyelimuti. Tiga bulan lebih berlalu, para penyintas banjir di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat masih harus bertahan di pengungsian. Mereka tidur di bawah tenda terpal plastik, didera kedinginan dan serangan nyamuk saat malam, serta kepanasan di siang hari.

Kondisi ini diperparah dengan hancurnya rumah, terhentinya aktivitas perekonomian, kelangkaan air bersih, serta krisis bahan makanan untuk berbuka puasa dan sahur. Melihat keprihatinan tersebut, sebuah kafe dan restoran bernama Cak Kaji di Provinsi Jawa Timur tergerak untuk menyediakan hidangan berbuka puasa gratis bagi mahasiswa perantau dari wilayah terdampak banjir Sumatra.

Pemilik usaha rumah makan berkelas eksklusif yang berlokasi di tengah sawah, Jalan Pengandaran, Desa Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, ini mengundang seluruh mahasiswa atau perantau asal Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat untuk melepas dahaga dan lapar setelah berpuasa seharian.

Inisiatif Berbagi dari Hati

Baiq Lily Handayani, pemilik Cafe dan Resto Cak Kaji, mengungkapkan motivasinya kepada Media Indonesia pada Jumat (27/2). “Kami berempati terhadap kondisi warga banjir Sumatra. Apalagi di Aceh hingga bulan Ramadan ini masih didera penderitaan. Rumahnya hilang tersapu banjir, sumber perekonomian hancur, di tambah lagi keprihatinan menanggung biaya pendidikan dan kehidupan keluarga. Maka saya bersama sang suami merasa terpanggil untuk menyediakan makanan berbuka kepada anak mahasiswa yang kuliah di Jember,” ujarnya.

Lily Handayani, yang merupakan istri dari Rozaq Asyhari sekaligus alumni Universitas Negeri Jember (UNEJ), menuturkan bahwa mahasiswa korban banjir dari Aceh menjadi yang paling banyak berbuka puasa di Resto Cak Kaji. Hal ini mungkin karena Aceh merupakan wilayah yang paling luas dan paling parah terdampak banjir besar tersebut. “Apalagi dari Aceh itu semua muslim. Kami pun membuka warung menjelang waktu berbuka puasa. Jadi melayani hanya pada malam hari. Anak-anak Aceh dari Serambi Mekkah pun kalau siang berpuasa,” tambah Lily.

Inisiatif ini bermula sekitar 4 Desember, atau sekitar 10 hari setelah banjir meluluhlantakkan Sumatra. Lily bersama suami merasakan keprihatinan mendalam saat mengetahui kondisi warga terdampak yang kehilangan rumah, tempat usaha, serta kebun atau sawah yang rusak parah. Sebagai bentuk bantuan, mereka berinisiatif meringankan beban keluarga korban dengan membantu anak-anak mereka yang kuliah dan merantau di Jember.

“Sekitar tanggal tanggal 4 Desember atau bertepatan setelah 10 hari banjir meluluhlantakkan Sumatra, kami menyebar melalui media sosial dan status Watsapp untuk mengajak mahasiswa mahasiswi asal daerah banjir Sumatra untuk makan gratis sehari tiga kali di Resto Cak Kaji. Awalnya mereka ragu, apa bernar atau bercanda. Akhirnya insya Allah tersahuti, walaupun kadang ada yang malu atau enggan mendatangi nya,” kenang Lily, yang juga sempat menjadi dosen Sosiologi di Universitas Negeri Jember.

Bantuan Berharga bagi Mahasiswa Perantau

Khairil Akli, seorang mahasiswa Universitas Negeri Jember asal Krueng Seumideuen, Kabupaten Pidie, Aceh, mengaku telah sering menikmati makan gratis di Resto Cak Kaji sejak awal pascabanjir. Ia menceritakan, awalnya menu makanan disajikan secara prasmanan, namun kini semakin mewah dengan sistem pemesanan kepada karyawan sesuai selera.

“Kebaikan ini sangat membantu kehidupan kami sebagai nak kost. Kemudian meringankan beban orang tua dan membantu keberlanjutan kuliah kami di Jember. Baik yang kuliah di Universitas Negeri Jember, Politeknik Negeri Jember, UIN Jember atau berbagai Universitas sawasta lainnya. Terimakasi Cafe Resto Cak Kaji, Semoga Menjadi Amal Jariah bagi pemilik dan karyawannya, terimakasih juga massyakat Jember dan Warga Jawa Timur semua,” tutur Khairil Akli, mengungkapkan rasa syukurnya.

Budayawan dari Universitas Syiah Kuala (USK) Aceh, M Adli Abdullah, turut menyampaikan rasa harunya atas kemurahan hati pemilik Cafe dan Resto Cak Kaji di Jember. Ia mengapresiasi sedekah berbuka puasa gratis sebulan penuh yang sangat membantu mahasiswa Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, serta meringankan beban ekonomi orang tua mereka yang masih bertahan di pengungsian.

“Kami masyarakat Aceh selalu mengenang dan berdoa atas santunannya. Sungguh besar jasa serta kepedulian engkau. Ini suatu hal yang jarang di dapat dan tidak semua orang mau melakukannya. Jarang yang mendapat ilham terbuka hatinya seperti demikian. Jasamu sungguh berharga bagi anak-anak kami,” ujar M Adli Abdullah, dosen senior yang memahami karakter masyarakat Aceh.