Pesta rakyat jelang Ramadan, tradisi Dugderan di Kota Semarang dan Dandangan di Kabupaten Kudus, kembali menjadi magnet bagi jutaan pengunjung. Dua kegiatan tahunan ini tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga secara signifikan menghidupkan roda perekonomian daerah setempat, dengan prediksi perputaran uang mencapai miliaran rupiah.

Di Kabupaten Kudus, tradisi Dandangan mulai digelar pada 9 hingga 18 Februari 2026. Kawasan Sunan Kudus hingga Jalan Jember dipenuhi oleh 800 hingga 1.000 pedagang dan UMKM, baik dari Kudus maupun luar daerah. “527 gerai untuk pedagang tersedia telah terisi penuh,” ungkap Plh Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus, Eko Hari Djatmiko.

Manajer Direktur Tradisi Dandangan, Anjas Pramono, menyatakan bahwa kegiatan ini terus menunjukkan peningkatan setiap tahunnya, baik dari jumlah pedagang, pengunjung, maupun gerai yang disiapkan. Ia optimistis perputaran uang tahun ini akan mencapai target yang dicanangkan. “Pada tahun lalu, dari target perputaran uang di angka Rp1,2 miliar per hari dan tahun ini kami prediksi bisa mencapai Rp1,5 miliar per hari, bahkan dapat menyentuh di angka Rp1,8 miliar per hari,” ujar Anjas Pramono pada Minggu (8/2).

Besarnya potensi ekonomi ini didorong oleh jumlah pengunjung yang masif. Anjas Pramono memprediksi, tradisi Dandangan dapat menarik 38.000 hingga 80.000 orang per hari, dengan sebagian besar di antaranya akan berbelanja di bazar rakyat tersebut.

Sementara itu, di Kota Semarang, tradisi Dugderan yang berlangsung pada 7 hingga 16 Februari 2026, juga menarik perhatian. Suasana di seputar Alun-alun, Pasar Johar, dan Masjid Agung Kauman berubah total. Ratusan pedagang dadakan menempati kios tenda di Jalan Ki Nartosabdo dan Jalan KH Agus Salim, menjajakan aneka dagangan mulai dari kuliner, kerajinan, pakaian, hingga kebutuhan rumah tangga.

Dugderan dikenal karena menawarkan barang-barang khas yang mulai langka dan hanya dijual pada momen tersebut, seperti Warak Ngendok, mainan tembikar, dan gangsingan. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari, mengungkapkan bahwa Dugderan tahun ini diperkirakan lebih meriah karena bertepatan dengan perayaan Imlek dan Pasar Semawis di kawasan Pecinan Semarang.

Indriyasari menargetkan total kunjungan mencapai 8,9 juta orang untuk event Dugderan dan Pasar Semawis, dengan perkiraan perputaran uang hingga miliaran rupiah. “Hari pertama pembukaan kebarin Sabtu (7/2) jumlah pengunjung Dugderan penuh hingga mencapai ratusan ribu, sehingga diperkirakan akan meningkat setiap harinya hingga penutupan mendatang,” katanya.

Dengan adanya dua agenda besar ini, Indriyasari menyebutkan akan ada tiga titik keramaian utama di Kota Semarang: Jalan Ki Nartosabdo – Jalan KH Agus Salim, Seputar Masjid Agung Kauman, dan Pecinan Kota Semarang.

Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis), Harjanto Halim, berharap kedua event ini tidak dipandang sebagai kompetisi, melainkan kolaborasi budaya Tionghoa, Islam, dan Jawa yang telah lama bersinergi. “Kedua tradisi di Kota Semarang ini membuktikan semangat keberagaman yang ada, bahkan Dugderan dan Pasar Semawis saling berdampingan dan tetap rukun terpadu,” tambahnya.