Sebuah drama keluarga yang melibatkan seorang ibu tiri dan anak tirinya kembali menjadi perbincangan hangat di jagat maya. Kali ini, pemicunya adalah sebuah ‘baju tidur biru’ yang memicu perseteruan dan membelah opini netizen. Kisah ini pertama kali mencuat di platform media sosial TikTok, sebelum kemudian menyebar luas ke berbagai kanal lain, termasuk Instagram dan Twitter, pada awal Maret 2026.
Konflik ini bermula ketika seorang pengguna TikTok dengan akun @RinaPutriOfficial mengunggah video singkat yang memperlihatkan dirinya mengenakan baju tidur berwarna biru. Dalam keterangan video, Rina menuliskan keluhannya mengenai sang ibu tiri yang disebutnya kerap “meniru” gaya dan barang-barang miliknya, termasuk baju tidur tersebut. Unggahan ini sontak menarik perhatian ribuan pengguna, dengan banyak yang merasa simpati terhadap Rina.
Respon Ibu Tiri dan Perdebatan Netizen
Tak lama berselang, pihak ibu tiri, yang kemudian diketahui bernama Santi, merespons melalui akun TikTok pribadinya, @SantiOfficial. Santi mengunggah video tandingan yang menunjukkan bahwa baju tidur biru yang ia kenakan adalah miliknya sendiri dan telah dibeli jauh sebelum Rina memiliki yang serupa. “Ini baju saya, sudah lama ada di lemari. Jangan asal menuduh tanpa bukti,” ujar Santi dalam video tersebut, yang juga viral dan memicu perdebatan sengit.
Netizen pun terpecah menjadi dua kubu. Sebagian membela Rina, menganggap tindakan ibu tiri sebagai bentuk persaingan tidak sehat dan kurangnya empati. “Kasihan Rina, memang sering terjadi ibu tiri ingin menyaingi anak tirinya,” tulis salah satu komentar di TikTok. Namun, tidak sedikit pula yang membela Santi, menyoroti bahwa Rina terlalu cepat mengambil kesimpulan dan menyebarkan masalah pribadi ke ranah publik. “Mungkin cuma kebetulan bajunya sama, kenapa harus langsung di-upload?” timpal netizen lainnya.
Dinamika Keluarga Tiri dan Etika Bermedia Sosial
Psikolog keluarga, Dr. Indah Permata, menyoroti kasus ini sebagai cerminan kompleksitas dinamika dalam keluarga tiri. “Hubungan ibu tiri dan anak tiri memang rentan terhadap kesalahpahaman dan persaingan, terutama jika tidak ada komunikasi yang terbuka sejak awal,” jelas Dr. Indah saat dihubungi Kompas.com. Ia menambahkan bahwa media sosial seringkali memperkeruh situasi karena memicu penghakiman publik tanpa pemahaman konteks yang utuh.
Kasus ‘baju tidur biru’ ini juga kembali mengangkat isu penting mengenai etika bermedia sosial. Para ahli menyarankan agar individu lebih bijak dalam membagikan masalah pribadi, terutama yang melibatkan anggota keluarga, ke platform publik. “Sebaiknya masalah keluarga diselesaikan secara internal, bukan dengan mencari pembenaran atau dukungan di media sosial yang justru bisa memperburuk keadaan,” pungkas Dr. Indah.
