Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar, Ita Isdiana Anwar, memperingatkan orang tua untuk lebih waspada setelah lima siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Makassar terdeteksi terpapar jaringan berpaham ekstrem dan radikal. Kelima remaja ini, yang rata-rata berusia 14 tahun, diketahui masuk dalam jaringan tersebut melalui platform digital seperti gim daring dan media sosial sejak tahun lalu.
Terjaring Lewat Gim Daring dan Media Sosial
Ita Isdiana Anwar menjelaskan bahwa fenomena ini menjadi alarm keras, mengingat para remaja tersebut terpapar melalui aktivitas digital yang sangat akrab dengan keseharian mereka. Proses penjangkauan yang dilakukan DP3A bersama Densus 88 sejak awal tahun lalu mengungkap fakta mengejutkan. Anak-anak tersebut diketahui bergabung dalam 28 grup WhatsApp (WAG) yang secara aktif menyebarkan pemahaman terorisme.
Keikutsertaan mereka bermula dari mengklik tautan (link) dari konten digital yang tampak biasa saat bermain gim atau berselancar di media sosial. “Pada saat kita turun ke rumah, si anak dan orangtuanya kaget. Mereka tidak sadar sudah masuk dalam pemahaman jaringan itu,” ungkap Ita, Jumat (15/5).
Profil Anak dan Modus Paparan
Yang lebih mengejutkan, mayoritas anak-anak yang terpapar ini berasal dari keluarga ekonomi menengah ke atas dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Mereka juga tidak menunjukkan perilaku mencolok yang mencurigakan, seringkali terlihat tenang dan asyik di depan laptop atau gawai mereka. “Kita lihat rata-rata anak SMP yang pintar, menengah ke atas, pribadinya tenang, asyik di depan laptop. Ternyata sudah masuk dalam jaringan ini,” tambah Ita.
Meskipun telah terpapar, Ita menegaskan bahwa kelima anak di Makassar tersebut belum melakukan tindakan fisik yang membahayakan, seperti merakit bom. Hal ini berbeda dengan beberapa kasus serupa di Pulau Jawa yang sudah memasuki tahap eksekusi teknis.
Pendampingan dan Edukasi Preventif
Saat ini, kelima anak tersebut telah berkomitmen untuk keluar secara bertahap dari jaringan radikal. DP3A bersama Densus 88 terus memberikan pendampingan psikologis intensif, konseling pemulihan, serta penguatan pola pikir, baik kepada anak maupun orang tua mereka.
Sebagai langkah preventif, DP3A kini menggencarkan edukasi ke masyarakat melalui roadshow ke berbagai kecamatan, sekolah, dan kelompok PKK. Ita Isdiana mengingatkan para orang tua untuk lebih waspada dan mengawasi aktivitas digital anak secara ketat. Beberapa indikasi yang perlu diwaspadai orang tua antara lain:
- Anak mulai menunjukkan sikap tertutup secara tiba-tiba.
- Menghabiskan waktu berlebihan di depan laptop atau gawai tanpa tujuan yang jelas.
- Perubahan pola pikir atau cara bicara yang mulai mengarah pada pandangan ekstrem.
“Saya sudah izin untuk menyampaikan ini ke masyarakat. Supaya tahu, hati-hati anak-anak kita. Lindungi anak-anak kita,” pesan Ita. Hingga kini, DP3A dan Densus 88 terus memantau perkembangan kelima anak tersebut guna memastikan proses deradikalisasi berjalan maksimal.
