Tekanan biaya bahan bakar minyak (BBM) dan bahan bakar gas (BBG) mendorong rumah tangga serta industri untuk menerapkan strategi hemat energi. Pendekatan efisiensi ini bukan berarti membatasi aktivitas, melainkan mengatur penggunaan energi agar lebih tepat sasaran guna menjaga produktivitas.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember, Ciplis Gema Qoriah, menegaskan bahwa penghematan energi sangat bergantung pada kecermatan dalam mengelola sumber daya yang tersedia. “Dengan ketersediaan yang ada, kita harus mampu menyeimbangkan biaya dan manfaat, didukung mitigasi risiko yang baik, pemanfaatan sistem digital, serta tata kelola yang lebih rapi,” ujar Ciplis pada Jumat, 03 April 2026.

Efisiensi di Tingkat Rumah Tangga dan Industri

Di lingkup rumah tangga, langkah efisiensi dapat dimulai dari penggunaan listrik sesuai kebutuhan dan pemilihan perangkat berdaya rendah. Pengelolaan konsumsi gas juga menjadi perhatian, termasuk perencanaan penggunaan BBM untuk mobilitas harian dengan mempertimbangkan jarak, kondisi jalan, dan urgensi aktivitas. Pola ini memungkinkan konsumsi energi lebih terkendali tanpa mengganggu rutinitas.

Dalam jangka panjang, pemanfaatan energi alternatif seperti panel surya memiliki potensi besar untuk diperluas, terutama jika didukung oleh kebijakan subsidi bertahap dari pemerintah.

Pada sektor industri, efisiensi diterapkan melalui perencanaan energi yang berbasis target produksi dan pendapatan. Pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, berperan penting dalam menekan biaya operasional sekaligus menjaga kualitas output. Desain sistem produksi yang efisien serta penggunaan pencahayaan hemat energi turut memperkuat upaya penghematan. Bersamaan dengan itu, sumber energi non-fosil seperti tenaga surya, air, dan angin mulai dilirik sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada energi konvensional.

Peran Pemerintah dalam Mendukung Efisiensi

Ciplis Gema Qoriah juga menyoroti peran krusial pemerintah dalam penyediaan infrastruktur yang mendukung efisiensi energi. Ia mencontohkan, jalan yang rusak dapat meningkatkan konsumsi BBM kendaraan. “Perbaikan jalan darat secara berkala penting agar penggunaan BBM lebih efisien. Jalan yang buruk membuat konsumsi energi meningkat dan biaya ikut membengkak,” katanya.

Pengembangan jalan tol serta penguatan transportasi laut dan udara dinilai mampu menekan konsumsi energi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Pemerintah juga perlu membangun sistem data transportasi dan distribusi yang terintegrasi agar arus barang dan jasa menjadi lebih efisien.

Wakil Ketua Kadin Jawa Timur, Edi Purwanto, menambahkan bahwa efisiensi energi tidak berarti mengurangi aktivitas ekonomi. “Efisiensi bertujuan meminimalkan pemborosan dalam aktivitas. Kuncinya ada pada skala prioritas dan pengukuran yang jelas,” ujarnya.

Edi mendorong langkah konkret seperti substitusi energi dari BBM ke listrik atau gas, pengaturan jam operasional industri, serta perawatan rutin mesin produksi. Evaluasi sistem transportasi dan logistik juga dianggap penting mengingat sektor tersebut menyerap energi dalam jumlah besar.

Digitalisasi dan Data Konsumsi Energi

Digitalisasi menjadi salah satu solusi cepat untuk efisiensi. Pertemuan daring, misalnya, mampu mengurangi mobilitas fisik tanpa menurunkan produktivitas kerja.

Data menunjukkan bahwa konsumsi energi terbesar rumah tangga masih berasal dari sektor transportasi, dengan penggunaan BBM berkisar 3 hingga 12 liter per hari. Sementara itu, konsumsi listrik dan BBG relatif stabil. Fakta ini memperlihatkan bahwa pengelolaan mobilitas menjadi titik paling menentukan dalam strategi efisiensi.

Pendekatan terintegrasi antara rumah tangga, industri, dan kebijakan pemerintah membuka peluang penghematan energi tanpa mengorbankan kinerja ekonomi. Efisiensi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menghadapi keterbatasan energi di masa depan.