Jakarta, Sabtu (7/3/2026) – Dokter spesialis anak dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A, membagikan metode komprehensif untuk mengatasi anak yang memiliki kebiasaan pemilih makanan atau “picky eater”. Dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta pada Jumat (6/3/2026), dr. Ian menekankan pentingnya pendekatan bertahap melalui permainan sensorik dan hierarki makanan.
Mengatasi ‘Picky Eater’ dengan Pendekatan Bertahap
Menurut dr. Ian, orang tua dapat memulai dengan melakukan sensory play atau permainan melatih sensorik menggunakan berbagai tekstur makanan. Pendekatan ini bertujuan untuk membiasakan anak dengan sensasi makanan yang berbeda. Selain itu, ia juga menyarankan penerapan metode sensory food hierarchy secara bertahap.
“Kita atasi dulu picky eaternya, boleh lakukan misalnya sensory play dengan berbagai macam tekstur (makanan) cari segala macam ide-ide sensory play setiap harinya ada. Kemudian, Anda boleh belajar tentang sensory food hierarchy,” ujar dokter Ian.
Metode sensory food hierarchy membantu anak mengenal makanan melalui serangkaian tahapan interaksi. Dokter lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menjelaskan bahwa orang tua bisa memulai dengan meletakkan makanan yang tidak disukai anak di dalam piring setiap hari. Tujuannya adalah agar anak terbiasa melihat makanan tersebut tanpa adanya paksaan untuk langsung memakannya.
Dalam proses ini, anak diharapkan akan melalui beberapa tahap, mulai dari melihat makanan, merasa penasaran, menyentuh, mencium, hingga akhirnya mencoba memakannya.
“Kalau dia picky eater anaknya enggak mau makan daging sama sekali, tiap hari Anda harus kasih daging di dalam piring, suruh anak lihat terus, perkara dia enggak mau makan nggak apa-apa yang penting tiap hari dibiasain ada di situ. Lama-lama anak terbiasa melihat, pasti penasaran,” jelasnya.
Memastikan Bukan Alergi Susu Sapi
Selain pendekatan perilaku, dr. Ian juga menyarankan orang tua untuk memastikan terlebih dahulu apakah anak mengalami alergi susu sapi. Ia menyoroti bahwa seringkali kasus anak picky eater dikaitkan dengan alergi susu sapi, padahal setelah diperiksa, anak tidak memiliki alergi tersebut.
“Kalau semua susu tinggi kalori pasti yang namanya susu pasti mengandung susu sapi. Tapi ingat dulu nomor satu, benar-benar pastikan itu alergi susu sapi atau enggak,” imbuh dr. Ian.
Untuk mengetahui apakah anak alergi susu sapi, orang tua dapat mencoba memberikan susu sapi dan mengamati apakah muncul gejala tertentu seperti ruam, muntah, batuk, atau pilek setelah mengonsumsinya. Jika gejala muncul, susu sapi sebaiknya dihentikan sementara.
“Kasih susu sapi kalau dia misalnya punya gejala terus stop susu sapinya selama 2-4 minggu gejalanya hilang secara konstan hilang. Terus Anda harus coba pakai susu sapi lagi, direchallenge lagi ternyata muncul gejala dalam 1-3 hari, maka memang betul anak itu alergi susu sapi,” pungkasnya.
