Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Sulawesi Barat mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menghilangkan stigma negatif terhadap epilepsi. Penyakit ini, menurut Dinkes Sulbar, bukanlah kondisi menular atau terkait dengan hal mistis, melainkan gangguan sistem saraf yang dapat dikendalikan.
Kepala Dinkes P2KB Provinsi Sulbar, dr Nursyamsi Rahim, menegaskan bahwa pemahaman yang benar sangat krusial. “Epilepsi adalah gangguan sistem saraf yang bisa dikendalikan dengan pengobatan yang tepat. Penderitanya tetap bisa hidup produktif jika mendapat dukungan,” ujar dr Nursyamsi di Mamuju, Jumat (27/3/2026).
Nursyamsi menyoroti masih banyaknya kesalahpahaman di tengah masyarakat terkait epilepsi. Kondisi ini, kata dia, justru menghambat akses pengobatan dan kehidupan sosial bagi penyandang epilepsi. Ia menambahkan, epilepsi dapat dialami oleh siapa saja, mulai dari anak-anak hingga warga lanjut usia.
“Dukungan keluarga, tenaga kesehatan, dan masyarakat sangat dibutuhkan, tidak hanya secara medis, tetapi juga secara emosional,” tegasnya.
Mengenali Gejala dan Penanganan Awal Epilepsi
Secara umum, dr Nursyamsi menjelaskan bahwa epilepsi ditandai dengan kejang yang dapat bervariasi. Gejala tersebut bisa berupa tubuh kaku, gerakan tak terkendali, hingga penurunan kesadaran. “Dalam beberapa kasus, penderita juga bisa mengalami tatapan kosong, kebingungan sesaat, atau gerakan berulang seperti mengunyah,” paparnya.
Terkait hal itu, Nursyamsi mengingatkan pentingnya penanganan awal yang tepat saat seseorang mengalami kejang. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan segera menjauhkan benda berbahaya dari sekitar penderita. Selain itu, melindungi kepala dengan alas lunak serta memiringkan tubuh penderita sangat penting agar jalan napas tetap aman.
“Hal yang perlu diingat, jangan menahan gerakan kejang dan jangan memasukkan apa pun ke dalam mulut penderita. Dampingi sampai sadar dan pastikan kondisinya aman,” jelas Nursyamsi.
Peringatan Purple Day 2026: Mengubah Cerita Menjadi Tindakan
Pada momentum Purple Day 2026 atau Hari Epilepsi Sedunia, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menggaungkan semangat kepedulian terhadap penyandang epilepsi. Peringatan tahun ini mengusung tema ‘Mengubah Cerita Menjadi Tindakan’ (Turning Stories into Action), yang menekankan pentingnya langkah nyata, bukan sekadar berbagi cerita.
Dinas Kesehatan P2KB Provinsi Sulbar juga terus mendorong penguatan edukasi, layanan kesehatan, serta dukungan komunitas dan konseling keluarga. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup penyandang epilepsi secara signifikan.
