Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Hematologi Onkologi, Daniel Rizky, menegaskan bahwa keberhasilan terapi kanker tidak hanya diukur dari angka kesembuhan. Menurutnya, kualitas hidup pasien juga menjadi tolok ukur penting dalam menilai efektivitas pengobatan.

“Keberhasilan terapi tidak hanya diukur dari angka survival rate, tetapi juga dari respon tumor terhadap pengobatan serta kualitas hidup pasien. Terapi yang ideal adalah yang efektif tanpa membuat kondisi pasien semakin memburuk,” ujar Daniel Rizky, lulusan Universitas Diponegoro (Undip), dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat (20/2/2026).

Pernyataan ini disampaikan Daniel Rizky untuk meluruskan anggapan bahwa pengobatan kanker pada pasien usia lanjut (lansia) selalu berisiko tinggi. Ia menjelaskan, saat ini telah tersedia regimen terapi yang lebih ramah bagi lansia. Pendekatan ini menyeimbangkan efektivitas pengobatan dengan upaya menjaga kualitas hidup pasien.

Penanganan kanker pada lansia, lanjutnya, memang memiliki tantangan tersendiri. Salah satu faktor utamanya adalah kondisi kerapuhan atau frailty index, yaitu tingkat kebugaran biologis pasien yang tidak selalu sejalan dengan usia kronologisnya. Oleh karena itu, penanganan tetap didasarkan pada jenis dan stadium kanker, dengan mempertimbangkan fungsi organ, penyakit penyerta, serta kondisi kebugaran pasien.

“Tidak semua pasien berusia 70 tahun memiliki kondisi tubuh yang sama. Karena itu terapi tidak bisa disamaratakan dan harus melalui penilaian khusus sebelum menentukan jenis maupun dosis pengobatan,” jelas Daniel Rizky.

Selain aspek medis, dukungan keluarga juga memegang peran krusial. Daniel Rizky menyoroti salah satu kesalahan umum yang kerap terjadi, yaitu pembatasan makanan secara ekstrem akibat mitos yang beredar. Padahal, pasien yang menjalani terapi membutuhkan asupan nutrisi cukup untuk membantu proses pemulihan.

“Kanker tak hanya penyakit biologis, tetapi juga berdampak sosial dan emosional. Support system yang kuat membantu pasien tetap semangat dan tidak merasa sendirian dalam menjalani terapi,” tambahnya.

Setelah menyelesaikan pengobatan, lansia penyintas kanker tetap diwajibkan untuk menjalani kontrol dan pemantauan rutin. Hal ini bertujuan untuk mendeteksi kemungkinan kekambuhan serta memantau efek samping terapi yang mungkin timbul.

“Penanganan tepat bagi penyintas kanker lansia adalah kombinasi antara terapi medis yang terukur dan dukungan keluarga yang optimal. Tujuannya bukan sekadar memperpanjang usia, tetapi memastikan kualitas hidup tetap terjaga,” pungkas Daniel Rizky.