Kelangkaan gas LPG 3 kilogram di Kabupaten Bojonegoro dalam beberapa hari terakhir dipastikan bukan karena penimbunan, melainkan faktor alam. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disdagkop UM) Kabupaten Bojonegoro, Ahmadi, menjelaskan bahwa pasokan gas melon kini berangsur normal.
Pernyataan Ahmadi ini disampaikan sebagai respons atas keluhan masyarakat Bojonegoro mengenai sulitnya mendapatkan gas bersubsidi tersebut. Menurutnya, masalah utama terletak pada keterlambatan distribusi dari pihak Pertamina.
Faktor Cuaca dan Pemulihan Distribusi
“Ada keterlambatan distribusi dari Pertamina karena cuaca buruk di perairan, sehingga kapal pengangkut tidak bisa bersandar tepat waktu,” jelas Ahmadi, Kamis (19/3/2026).
Meski sempat tersendat, Ahmadi memastikan bahwa proses pemulihan pasokan telah berjalan sejak pertengahan Maret 2026. Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) di Bojonegoro dilaporkan mulai terisi penuh pada Minggu (15/3/2026). Distribusi masif ke agen dan pangkalan resmi pun langsung dikebut keesokan harinya, Senin (16/3/2026), untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Langkah Antisipasi dan Pengawasan
Guna mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang, Disdagkop UM Bojonegoro telah mengajukan permintaan penambahan kuota LPG 3 kg kepada Pertamina Patra Niaga. Permintaan tersebut mencapai 3.879 Metrik Ton (MT).
Selain itu, pihaknya bersama instansi terkait secara rutin menggelar inspeksi mendadak (sidak) di lapangan. Sidak ini bertujuan untuk memantau kelancaran distribusi dan menstabilkan harga agar tidak melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan.
