Semangat menuntut ilmu tidak mengenal batas usia. Di tengah keterbatasan fisik yang sering menyertai masa senja, puluhan lansia di Desa Bendelonje, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar, justru menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti Pondok Ramadan Lansia.

Program yang hanya dibuka setahun sekali selama bulan Ramadan ini menjadi magnet bagi para sesepuh untuk mendalami ilmu agama. Salah satu peserta, Zaediyah (78), yang berasal dari Kecamatan Kesamben, merasakan betul manfaat dari kegiatan tersebut. Ia mengaku telah rutin mengikuti pondok Ramadan sejak tahun 2015.

“Banyak yang saya dapatkan di sini. Ilmunya bisa saya ajarkan lagi ke keluarga,” ujar Zaediyah, Kamis (26/2/2026).

Pengelola Pondok Ramadan Lansia, Sri Banun (73), menjelaskan bahwa program ini telah berjalan konsisten sejak tahun 2010. Setiap Ramadan, para peserta menginap di bangunan sederhana yang terletak di dekat masjid. Kebutuhan sahur dan berbuka puasa mereka sepenuhnya dipenuhi oleh Muslimat Cabang Talun.

Beragam aktivitas harian mengisi kegiatan para lansia. Dimulai dengan senam pagi untuk menjaga kebugaran fisik, dilanjutkan dengan pembelajaran agama dan mengaji bersama. Suasana kebersamaan dan kekeluargaan begitu terasa di antara para peserta, yang mayoritas merupakan janda lansia.

“Tujuannya kami membimbing mereka untuk mendalami ilmu agama sebagai bekal ketika nanti dipanggil pulang oleh Allah,” terang Sri Banun.

Kegiatan Pondok Ramadan ini berlangsung selama 12 hari penuh sepanjang bulan suci. Beberapa peserta bahkan memilih untuk menginap karena jarak rumah mereka yang cukup jauh dari lokasi pondok.

Menurut Sri Banun, pondok Ramadan ini bukan sekadar tempat untuk belajar mengaji. Lebih dari itu, program ini dirancang untuk mengajak para lansia semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, sekaligus membantu mereka menemukan kembali kebahagiaan di usia senja.

“Program ini juga untuk menghilangkan kesedihan. Banyak orang tua yang merasa sedih karena berbagai hal. Tapi ketika sampai di sini, semuanya bahagia,” pungkasnya.