Gesit News – Lombok Timur, Menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, masyarakat Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), menghadirkan suasana penuh kehangatan dengan cara yang lebih sederhana dan terukur.

Di saat banyaknya pengeluaran jelang puasa, warga Desa Ketangga justru bersepakat menekan biaya tradisi Roah atau selamatan. Jika pada tahun-tahun sebelumnya kegiatan zikir dan jamuan dilakukan di rumah masing-masing dengan anggaran yang bisa mencapai lebih dari Rp1 juta per keluarga, tahun ini masyarakat kembali menghidupkan sistem “Saling Tulung” atau saling membantu.

Setiap kepala keluarga cukup membawa satu dulang (nampan) berisi hidangan dengan kisaran biaya sekitar Rp200 ribu untuk kemudian dikumpulkan dan disantap bersama di Masjid desa setempat.

Salah satu tokoh Desa Ketangga, menuturkan bahwa langkah tersebut diambil agar masyarakat tidak terbebani secara finansial.

“Kami tidak ingin keberkahan Ramadhan justru dibayangi utang atau pengeluaran yang berlebihan. Dengan satu dulang, biaya bisa ditekan hingga sekitar 20 persen,” ujarnya, Jumat (13/2/2026).

Menurutnya, penghematan ini juga menjadi strategi menghadapi potensi kenaikan harga kebutuhan pokok seperti cabai dan sayuran yang kerap terjadi saat bulan puasa. Dana yang dihemat dari tradisi Roah dapat dialihkan untuk memenuhi kebutuhan awal Ramadhan.

“Alhamdulillah jadi lebih irit, sisanya bisa dipakai untuk persiapan puasa nanti,” tambahnya.

Dukungan juga datang dari tokoh agama setempat, yang mengimbau warga agar lebih memprioritaskan peningkatan kualitas ibadah dibanding pengeluaran untuk hal-hal yang bersifat konsumtif.

“Ramadhan seharusnya dimaknai dengan kesederhanaan. Kalau pengeluaran bisa diminimalkan, masyarakat lebih tenang beribadah dan memiliki simpanan untuk kebutuhan puasa maupun Idul Fitri,” jelasnya.

Langkah kolektif warga Desa Ketangga ini menjadi gambaran nyata bahwa semangat menyambut Ramadhan tidak selalu identik dengan biaya besar. Di tengah tantangan ekonomi dan kenaikan harga pangan, kebersamaan dan gotong royong justru menjadi kunci utama menghadirkan keberkahan bulan suci.(14/2)