Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengeluarkan peringatan keras terkait maraknya modus penipuan daring (online) jenis yang memanfaatkan konten . Salah satu kasus terbaru yang menjadi sorotan adalah eksploitasi video perseteruan antara ibu tiri dan anak tiri yang sempat ramai di media sosial. BSSN mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap tautan mencurigakan yang beredar.

Modus Operandi Phishing yang Semakin Canggih

Modus operandi yang digunakan pelaku kejahatan siber ini tergolong canggih dan memanfaatkan aspek psikologis pengguna. Pelaku menyebarkan tautan berbahaya yang dikemas seolah-olah merupakan akses ke video lengkap atau konten eksklusif dari insiden viral tersebut. Tautan ini seringkali disebarkan melalui platform pesan instan, komentar di media sosial, atau email yang tidak dikenal.

Ketika korban mengklik tautan tersebut, mereka tidak akan diarahkan ke video yang dijanjikan, melainkan ke situs web palsu yang dirancang untuk mencuri data pribadi. Data yang menjadi incaran meliputi kredensial login akun media sosial, informasi perbankan, nomor kartu kredit, hingga data identitas pribadi lainnya. Dalam beberapa kasus, tautan tersebut juga dapat mengunduh malware secara otomatis ke perangkat korban, memberikan akses tidak sah kepada pelaku.

Peningkatan Kasus Social Engineering

Kepala BSSN, Letjen TNI (Purn.) Hinsa Siburian, dalam keterangan persnya pada Jumat, 14 Maret 2026, menyatakan bahwa tren serangan siber dengan teknik social engineering mengalami peningkatan signifikan.