BPJS Ketenagakerjaan Kota Malang meluncurkan gerakan “Sinergi Melintas, Perlindungan Tuntas” untuk memperluas cakupan jaminan sosial bagi pekerja informal. Inisiatif ini menggandeng ekosistem RT dan RW, menargetkan seluruh lapisan pekerja mulai dari asisten rumah tangga hingga pedagang kaki lima agar terlindungi.

Langkah strategis ini diambil untuk mengatasi kesenjangan perlindungan yang signifikan di Kota Malang. Data per 16 April 2026 menunjukkan, baru 174.152 orang atau sekitar 43 persen dari total 400.059 pekerja di Kota Malang yang telah memiliki jaminan perlindungan. Angka ini berarti lebih dari separuh angkatan kerja masih rentan terhadap risiko kecelakaan kerja dan ketidakpastian di hari tua.

Wali Kota Malang: Jaminan Sosial Hapus Kecemasan Pekerja

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menegaskan bahwa kehadiran jaminan sosial ini akan menghilangkan kekhawatiran warga saat mencari nafkah. “Peserta tidak lagi terbebani risiko kerja. Rasa aman tersebut membuat mereka lebih produktif karena ada jaring pengaman untuk kecelakaan, kematian, hingga masa pensiun nanti,” ungkap Wahyu usai melepas rombongan pesepeda di Balai Kota Malang, akhir pekan lalu.

Untuk mempermudah penetrasi ke masyarakat akar rumput, BPJS Ketenagakerjaan juga menerjunkan sistem keagenan bernama Perisai (Penggerak Jaminan Sosial Indonesia). Inovasi ini diharapkan menjadi ujung tombak dalam mengedukasi sektor Pekerja Bukan Penerima Upah (BPU) yang selama ini sulit dijangkau melalui birokrasi formal.

Diskon Iuran 50 Persen Jadi Daya Tarik Utama

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Malang, Zulkarnain Mahading, membeberkan bahwa daya tarik utama bagi warga saat ini adalah kebijakan diskon iuran sebesar 50 persen bagi pekerja mandiri. Menurutnya, jaminan sosial bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan perlindungan nyata yang dampaknya langsung dirasakan oleh keluarga pekerja.

“Sepanjang kuartal pertama 2026 saja, kami sudah mencairkan lebih dari 10 ribu klaim dengan total nilai Rp131,4 miliar di wilayah Malang. Angka tersebut mencakup beragam santunan, termasuk beasiswa pendidikan bagi ratusan anak peserta yang ditinggalkan orang tuanya,” jelas Zulkarnain.

Agenda peluncuran program ini bertepatan dengan HUT ke-112 Kota Malang, dikemas secara unik melalui kegiatan gowes sejauh 11,2 km dan 112 km. Mengusung semangat “Ngalam Tahes”, aksi ini mengajak masyarakat untuk tetap bugar sekaligus menyadari pentingnya memindahkan risiko finansial akibat kecelakaan kerja ke negara melalui badan penyelenggara.