Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) secara aktif memperkuat literasi dan inklusi keuangan bagi calon Pekerja Migran Indonesia (PMI). Langkah ini diambil untuk membekali para calon pekerja dengan pemahaman finansial yang krusial sebelum mereka berangkat ke luar negeri.
OJK Dorong PMI Cerdas Finansial
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Tengah, Bonny Hardi Putra, di Palu pada Kamis (14/5/2026), menjelaskan bahwa peningkatan literasi dan inklusi keuangan sangat penting guna meminimalkan berbagai risiko yang kerap mengintai PMI. “Selain itu, pengelolaan utang yang tidak sehat, penyalahgunaan rekening dan data pribadi, hingga tindak kejahatan keuangan digital yang masih kerap menyasar pekerja migran Indonesia,” tegas Bonny.
Bonny menambahkan bahwa calon PMI merupakan salah satu segmen prioritas dalam Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLKI) 2021–2025. Oleh karena itu, sebagai bagian dari komitmen tersebut, OJK Sulteng menyelenggarakan kegiatan sosialisasi komprehensif.
Peluncuran Buku Saku dan Sinergi Lintas Lembaga
Kegiatan sosialisasi ini mencakup peluang kerja luar negeri, migrasi aman, dan literasi keuangan. Acara tersebut juga dirangkaikan dengan peluncuran Buku Saku Literasi Keuangan bagi Calon Pekerja Migran Indonesia yang mengusung tema “PMI Cerdas Finansial, Menuju Indonesia Maju”.
Inisiatif ini merupakan bentuk sinergi antara OJK Sulawesi Tengah dengan Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sulawesi Tengah. Tujuannya adalah membekali calon PMI dengan pemahaman mendalam mengenai pengelolaan keuangan, penggunaan layanan jasa keuangan formal, kewaspadaan terhadap penipuan dan kejahatan keuangan, serta pentingnya migrasi yang aman dan legal saat bekerja di luar negeri.
Kontribusi Remitansi PMI bagi Ekonomi Nasional
Bonny Hardi Putra juga menyoroti kontribusi besar pekerja migran Indonesia terhadap perekonomian nasional. Kontribusi ini terwujud melalui remitansi dan peningkatan kesejahteraan keluarga di daerah asal. Berdasarkan data Bank Indonesia, remitansi pekerja migran Indonesia pada tahun 2024 mencapai sekitar 15,70 miliar dolar AS atau setara Rp263,8 triliun. Angka ini menempatkan remitansi sebagai penghasil devisa terbesar kedua setelah sektor migas.
“Melalui kegiatan ini, kami mendorong calon pekerja migran Indonesia agar tidak hanya siap bekerja di luar negeri, tetapi juga mampu mengelola pendapatan secara bijak, aman, dan produktif sehingga dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi diri sendiri maupun keluarga,” ujar Bonny.
Materi Komprehensif untuk 150 Peserta
Kegiatan sosialisasi ini diikuti oleh 150 peserta, yang terdiri atas mahasiswa, calon pekerja migran Indonesia, akademisi, serta pemangku kepentingan terkait. Materi yang disampaikan sangat beragam dan relevan, meliputi:
- Pengelolaan dan perencanaan keuangan.
- Pemanfaatan produk dan layanan jasa keuangan formal.
- Perlindungan data pribadi.
- Kewaspadaan terhadap aktivitas keuangan ilegal.
Selain itu, peserta juga dibekali pemahaman terkait peluang kerja luar negeri, prosedur migrasi aman, serta pentingnya bekerja melalui jalur resmi. Hal ini krusial untuk memperoleh perlindungan hukum dan pemenuhan hak sebagai pekerja migran Indonesia.
OJK Sulawesi Tengah berharap, dengan bekal kesiapan finansial yang baik, calon pekerja migran Indonesia semakin siap menghadapi dunia kerja di luar negeri. Dengan demikian, mereka mampu memanfaatkan hasil kerja secara optimal untuk mendukung kesejahteraan diri dan keluarga.
