Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi angin kencang hingga 40 knot (sekitar 74 kilometer per jam) di perairan utara dan selatan Bali. Kondisi cuaca ekstrem ini diperkirakan berlangsung dari 3 hingga 6 Maret 2026, berpotensi membahayakan keselamatan pelayaran.

“Waspadai potensi angin kencang di perairan utara dan selatan Bali,” kata Prakirawan BBMKG Wilayah III Ariantika di Denpasar, Bali, pada Selasa (3/3/2026).

Berdasarkan analisis BBMKG Wilayah III, angin akan bergerak dari arah barat daya hingga barat laut di perairan utara dan selatan Bali dengan kecepatan yang dapat mencapai 74 kilometer per jam. Selain itu, BBMKG juga menerbitkan peringatan dini terkait potensi tinggi gelombang laut.

Potensi Gelombang Tinggi dan Risiko Pelayaran

Gelombang laut tinggi hingga 4 meter berpeluang terjadi di perairan selatan Bali, Selat Badung, Selat Lombok bagian selatan, serta di Selat Bali bagian selatan. Sementara itu, di Selat Lombok bagian utara dan perairan utara Bali, ketinggian gelombang laut diperkirakan mencapai 2,5 meter.

BBMKG Denpasar menegaskan bahwa kondisi angin dan gelombang laut ini berisiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran. Oleh karena itu, sejumlah imbauan dikeluarkan untuk operator kapal:

  • Operator kapal feri diminta mewaspadai kecepatan angin mencapai 21 knot dan tinggi gelombang mencapai 2,5 meter.
  • Operator kapal tongkang dianjurkan waspada saat angin berkecepatan 16 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,5 meter.
  • Pengguna perahu nelayan diminta mewaspadai kecepatan angin lebih dari 15 knot (sekitar 27 kilometer per jam) dan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter.

Penyebab Cuaca Ekstrem di Bali

Selain peringatan di perairan, cuaca ekstrem juga diprakirakan melanda wilayah Bali secara umum dari 2 hingga 8 Maret 2026. Fenomena ini disebabkan oleh beberapa faktor meteorologis.

Penyebab utama meliputi pola pertemuan massa udara atau konvergensi di sekitar wilayah Bali serta aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO) pada fase IV atau Maritime Continent. Kondisi MJO ini dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pembentukan awan hujan di wilayah tersebut.

Lebih lanjut, bibit siklon 90S yang saat ini terdeteksi di perairan selatan Samudera Hindia, tepatnya di barat daya Provinsi Banten, menunjukkan pola pergerakan ke arah timur menuju perairan selatan Bali. Pergerakan bibit siklon ini berpotensi menyebabkan peningkatan curah hujan dan kecepatan angin.

Tidak hanya itu, gelombang ekuatorial Rossby dan Kelvin juga diprediksi akan melintasi wilayah Bali dalam beberapa hari mendatang, turut memberikan pengaruh terhadap kondisi cuaca ekstrem yang terjadi.

sumber gambar: ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna