Artis Aurelie Moeremans mengungkapkan rasa syukurnya atas dampak besar yang dihasilkan oleh buku memoarnya, “Broken Strings”. Buku yang awalnya ditulis sebagai refleksi pribadi itu kini menjadi sorotan publik, bahkan memicu pembahasan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terkait sistem perlindungan anak dan perempuan.

Melalui akun Instagram pribadinya @aurelie, Aurelie Moeremans membagikan perjalanannya dalam menulis “Broken Strings”. Ia mengaku, pada mulanya, buku tersebut hanya ditujukan untuk dirinya sendiri, sebagai upaya untuk memahami “kekacauan yang pernah ada” dalam hidupnya.

Peran Suami dalam Keputusan Penerbitan

Keputusan untuk merilis “Broken Strings” ke publik datang setelah sang suami, Tyler Bigenho, memberikan pandangan yang mengubah perspektif Aurelie. Tyler meyakini bahwa kisah pahit yang dialami Aurelie memiliki potensi untuk menyelamatkan banyak orang.

“Mungkin ceritamu bisa membantu Aurélie lain di luar sana, seseorang yang masih mencari jalan keluar atau alasan untuk bertahan,” ujar Tyler kepada Aurelie, seperti yang ia ceritakan.

Perkataan sang suami menyadarkan Aurelie bahwa bukunya bukan lagi miliknya semata, melainkan juga untuk para penyintas lain yang mungkin mengalami hal serupa. “Saat itu aku sadar, buku ini bukan lagi milikku sendiri. Buku ini milik setiap gadis yang pernah dibungkam, setiap penyintas yang masih memikul beban dalam diam. Buku ini untuk kita,” tulis Aurelie.

Dampak Luas dan Perubahan Sistem

Aurelie Moeremans tidak menyangka bahwa “Broken Strings” akan memiliki dampak sebesar ini. Setelah buku itu dirilis, banyak penyintas mulai berani menyuarakan pengalaman mereka. Kasus-kasus child grooming pun mulai terungkap dan diproses secara hukum.

“Aku masih nggak percaya dampak yang lahir dari buku ini. Orang-orang mulai berani speak up. Kasus-kasus grooming mulai terungkap dan diproses. Buku ini dibawa ke DPR, supaya ada perubahan di sistem,” ungkap Aurelie.

Yang paling membahagiakan bagi Aurelie adalah isu child grooming kini dapat dibicarakan secara terbuka, bahkan di lingkungan sekolah. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran anak-anak akan tanda-tanda child grooming dan cara mencegahnya.

“Di 2026, child grooming akhirnya dibicarakan secara terbuka, bahkan di sekolah. Supaya anak-anak aware akan tanda-tandanya. Supaya mereka nggak harus mengalami apa yang pernah aku alami,” tulisnya. “Seperti yang selalu suamiku bilang, ternyata semua yang pernah aku lewati akhirnya punya arti. Buku ini sudah bukan tentang aku. Ini tentang perubahan yang akhirnya terjadi.”

Melihat dampak positif dari bukunya, Tyler Bigenho pun menyampaikan rasa bangganya kepada Aurelie. “So proud of you love honored to be your partner,” tulis Tyler.

“Broken Strings” sendiri merupakan memoar yang mengisahkan perjuangan Aurelie Moeremans sebagai korban child grooming dan kekerasan seksual, serta upayanya untuk keluar dari hubungan toksik tersebut.