Aktor sekaligus penyanyi Aldi Taher menyatakan dukungannya terhadap rencana aturan yang membatasi penggunaan media sosial bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun. Ia menilai kebijakan tersebut sebagai langkah positif untuk melindungi generasi muda dari berbagai dampak negatif yang bisa muncul di dunia digital.

Saat ditemui di Erian Hotel pada Selasa (10/3/2026), Aldi menyebut kebijakan serupa sebenarnya bukan hal baru. Menurutnya, sejumlah negara lain sudah lebih dulu menerapkan pembatasan demi menjaga perkembangan mental dan pola pikir anak-anak.

“Bagus. Di negara-negara lain juga sudah menerapkan itu. Karena memang mungkin dari segi berpikirnya belum matang. Terus juga waktunya mereka harusnya untuk belajar. Jadi, sangat support,” ujar Aldi Taher.

Aldi menjelaskan, anak-anak di bawah umur umumnya belum memiliki kematangan berpikir yang cukup untuk menggunakan media sosial secara bijak. Hal ini membuat mereka lebih rentan terpengaruh oleh berbagai konten yang beredar di internet.

“Iya, karena apa? Jadi itu belum ada kematangan untuk berpikir, ya. Kecuali sudah dewasa. Sama saja kayak kita KTP kan kita punya pas sudah 17 tahun,” katanya. Ia bahkan mengibaratkan penggunaan media sosial seperti mengemudi kendaraan yang membutuhkan izin resmi.

“Jadi harus ada SIM. Surat Ijin Medsos,” ucap Aldi sambil bercanda.

Meski mendukung pembatasan, Aldi juga menyadari bahwa teknologi dan gawai tetap memiliki peran penting dalam kehidupan saat ini, termasuk untuk menunjang proses belajar. Menurutnya, penggunaan gawai masih bisa dilakukan selama ada pengawasan dari orang tua serta aturan yang jelas mengenai konten yang boleh diakses.

Aldi mencontohkan bagaimana ia mengatur penggunaan gawai untuk anaknya. Ia memastikan aplikasi yang digunakan sesuai dengan usia anak dan memberikan batasan waktu penggunaan.

“Kalau aku, anakku untuk kayak YouTube-nya YouTube Kids. Terus juga yang boleh download itu yang sesuai usianya dia. Dan kasih waktu juga, biasanya pas libur,” jelasnya.

Lebih lanjut, Aldi menegaskan bahwa gawai tidak selalu membawa dampak negatif. Jika digunakan dengan bijak, teknologi justru dapat menjadi sarana edukasi bagi anak-anak. Menurutnya, banyak konten positif yang dapat dimanfaatkan, seperti materi pembelajaran hingga lagu-lagu bernuansa religi.

“Gadget itu buat edukasi juga. Dia melihat, belajar juga bisa di situ. Lagu-lagu Islami juga ada,” ujarnya.

Selain pengawasan orang tua, Aldi menilai pendidikan agama juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat. Ia berharap nilai-nilai keagamaan dapat menjadi pondasi kuat agar anak-anak mampu menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.

“Bismillah, kita berikan pendidikan agama yang kuat. Anak-anak kita salat, belajar Al-Qur’an. Jadi anaknya melihat,” kata Aldi.

Di akhir perbincangan, Aldi Taher berharap generasi muda yang aktif di media sosial dapat memanfaatkan teknologi untuk hal-hal positif, seperti berkarya dan menyebarkan kebaikan.

“Harapannya yang aktif di sosial media terus melakukan hal yang positif. Berkarya yang positif, bukan malah hal-hal yang negatif. Karena pada dasarnya sosial media atau teknologi itu diciptakan untuk berbuat kebaikan,” tutup Aldi Taher.