Iran pada Minggu (22/3) menegaskan kesiapannya untuk melancarkan serangan balasan terhadap seluruh infrastruktur Amerika Serikat (AS) dan Israel di Timur Tengah. Ancaman ini muncul sebagai respons keras terhadap ultimatum dari Presiden AS Donald Trump.
Juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya, seperti dikutip kantor berita Fars, menyatakan, “Jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran diserang, seluruh infrastruktur energi, teknologi informasi, dan desalinasi milik Amerika Serikat dan rezim (Israel) di kawasan akan menjadi sasaran.”
Ancaman balasan Iran ini menyusul ultimatum yang disampaikan Presiden Trump pada Sabtu. Trump memberi Iran waktu 48 jam untuk membuka Selat Hormuz atau menghadapi serangan terhadap pembangkit listriknya, “dimulai dari yang terbesar terlebih dahulu.”
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, turut memperingatkan bahwa Iran akan bertindak “tanpa pengekangan” jika infrastrukturnya diserang.
Selat Hormuz dilaporkan telah mengalami gangguan signifikan sejak awal Maret, kondisi yang memicu kenaikan harga minyak global.
Ketegangan ini semakin memuncak setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari. Serangan tersebut dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Informasi ini bersumber dari kantor berita Anadolu.
