Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan pada Rabu (21/1/2026) mengonfirmasi identitas salah satu korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT). Jenazah tersebut adalah Florencia Lolita Wibisono (33), pramugari senior yang bertugas dalam penerbangan nahas di Gunung Bulusaraung.
Florencia, yang akrab disapa Olen, ditemukan pada Senin (19/1/2026) di kedalaman jurang 500 meter. Identitasnya berhasil dipastikan melalui pencocokan sidik jari jempol kiri dan data medis ante-mortem. Konfirmasi ini sekaligus mengakhiri harapan keluarga yang sebelumnya berdoa untuk adanya mukjizat bagi perempuan asal Minahasa tersebut.
Kisah Pilu di Balik Dedikasi 14 Tahun
Di balik dedikasinya selama 14 tahun di dunia penerbangan, tersimpan kisah pilu mengenai masa depan Olen. Pihak keluarga mengungkapkan bahwa almarhumah sebenarnya tengah mempersiapkan rencana pernikahan dalam waktu dekat. Calon suaminya disebut-sebut juga berprofesi sebagai seorang pilot, menambah ironi pada tragedi ini.
Kerabat korban di Tondano, Sulawesi Utara, mengaku sangat terpukul atas kepergian Olen. Ia dikenal sebagai sosok yang mandiri dan berprestasi, bahkan sempat menjadi instruktur atau trainer bagi pramugari junior sebelum bergabung dengan IAT tiga bulan lalu.
Proses Identifikasi dan Pemulangan Jenazah
Kepala Biddokkes Polda Sulsel, Kombes dr. Muhammad Haris, menegaskan bahwa kondisi jenazah Florencia masih memungkinkan untuk diidentifikasi secara fisik dan medis. “Kami yakin berdasarkan data primer sidik jari dan properti yang melekat. Jenazah dengan nomor post-mortem 62B.01 adalah Florencia Lolita,” tegas Haris.
Saat ini, jenazah almarhumah telah diserahterimakan kepada pihak keluarga dan manajemen maskapai di RS Bhayangkara Makassar. Rencananya, jenazah akan diterbangkan ke Jakarta untuk disemayamkan di rumah duka di kawasan Pulogadung, Jakarta Timur.
Hingga berita ini diturunkan, tim SAR gabungan masih terus berupaya mengevakuasi korban lain di medan ekstrem Gunung Bulusaraung, melanjutkan pencarian di tengah tantangan alam yang berat.
