Sebuah temuan mengejutkan dari penelitian siswa SMAN 1 Driyorejo, Gresik, mengungkap keberadaan mikroplastik dalam cairan sperma manusia. Fakta ini menjadi alarm serius bagi kesehatan reproduksi dan mendorong sekolah tersebut untuk mendeklarasikan diri sebagai “Zero Plastic School” atau sekolah tanpa plastik.

Gerakan radikal ini digagas SMAN 1 Driyorejo bersama organisasi lingkungan ECOTON, menyikapi paradoks di kalangan generasi muda Jawa Timur. Mayoritas pelajar memang sadar akan ancaman mikroplastik, namun lingkungan sekolah mereka masih sangat bergantung pada plastik sekali pakai.

Founder ECOTON, Prigi Arisandi, menyoroti hasil riset yang menunjukkan 90 persen anak didik paham bahaya plastik bagi kesehatan, dan 82 persen di antaranya ingin berubah. Namun, infrastruktur sekolah belum mendukung perubahan tersebut.

“Anak-anak ingin berubah, tapi sistem sekolah memaksa mereka tetap mengonsumsi plastik setiap hari karena tidak ada alternatif. Edukasi tanpa perubahan kebijakan itu sia-sia,” tegas Prigi Arisandi saat peluncuran program di Gresik.

Pendekatan berbasis riset menjadi pembeda gerakan di SMAN 1 Driyorejo. Melalui jaringan Jawa Timur Youth Changemaker Academy (JAYCA), para siswa secara langsung meneliti partikel serat dan fragmen plastik yang tak kasat mata di lingkungan mereka.

Penelitian ini bahkan didampingi oleh Sri Astika, peneliti dari Biologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), yang memaparkan risetnya mengenai mikroplastik dalam cairan sperma manusia. Temuan ini menggetarkan kesadaran para siswa, membuktikan bahwa plastik bukan lagi sekadar sampah visual, melainkan polutan yang telah menyusup ke sistem reproduksi.

Koordinator Tim JAYCA SMAN 1 Driyorejo, Krisna Wahyu Sahaja, menyatakan, “Kami sadar ini ancaman nyata bagi masa depan. Mengubah perilaku Gen Z harus dimulai dengan fakta medis ini. Kami mulai dengan aksi konsisten membawa tumbler sendiri.”

Kepala SMAN 1 Driyorejo, Alif Hanifah, memastikan bahwa inisiatif sekolah tidak berhenti pada penelitian. Pihak manajemen telah menyiapkan peta jalan transformasi kebijakan yang menyasar langsung penggunaan plastik, terutama di kantin sekolah.

“Setelah Hari Raya Idul Fitri nanti, SMAN 1 Driyorejo akan mendeklarasikan diri sebagai Zero Plastic School. Kami hapus penggunaan kantong plastik dan beralih total ke wadah makan guna ulang,” kata Alif.

Langkah ini mencakup tiga pilar utama: riset mandiri oleh siswa untuk memantau mikroplastik, digital campaign memanfaatkan AI untuk edukasi lingkungan, dan kultural, yaitu membangun budaya membawa wadah sendiri secara permanen.

Alif berharap gerakan ini dapat menjadi tamparan bagi institusi pendidikan lain, agar tidak hanya mengajarkan teori lingkungan di kelas, tetapi juga berhenti menjadi produsen sampah plastik saat jam istirahat.

sumber gambar: jatimnow.com